"Keputusan ini adalah simbol manajemen modern yang mengedepankan win win solution untuk menjaga solidaritas Polri," kata Tjatur kepada detikcom, Selasa (5/10/2010).
Menurut Tjatur, sosok Timur sudah cukup senior di internal Polri. Timur dinilai piawai di teritorial dan mumpuni mengawal reformasi Polri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memiliki pengalaman mengelola teritorial di berbagai wilayah, Pak Timur diharapkan menjadi solidarity maker Polri dan merangkul semua calon," imbau Tjatur.
Lebih dari itu, Timur memegang tugas berat. Timur didesak membersihkan nama baik Polri dari mafia hukum dan permasalahan yang selama ini mengendap lainnya.
"Menuntaskan reformasi Polri dan meningkatkan preventif untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban nasional," tegasnya.
Berbeda dengan Tjatur, politisi asal PKS Nasir Djamil justru mempertanyakan pilihan SBY yang jatuh pada Timur. Menurut Nasir, keputusan SBY ini sangat politis.
Pada Senin (4/10/2010) malam, Presiden secara resmi mengirimkan Komjen Timur Pradopo sebagai calon Kapolri kepada DPR. Surat tersebut secara resmi akan disampaikan ke DPR pada sidang paripurna yang akan berlangsung hari ini.
(van/anw)











































