Direktur Medik dan Keperawatan, dr Bambang Sudarmanto mengatakan, multiple trauma itu bisa berupa psikis dan fisik. Ada beberapa korban yang patah tulang pada tangan, kaki, luka di dada, tengkorak, dan lain-lain.
"Lukanya kompleks. Tidak satu bagian," kata Bambang dalam jumpa pers di RSUP Kariadi, Jl. Dr Sutomo Semarang, Senin (4/10/2010).
Bambang menjelaskan, untuk menangani para korban, tim medis menganalisa terlebih dulu jenis dan tingkat keparahan urgensinya. Dengan demikian, korban mendapatkan perawatan sesuai porsinya.
"Kami tak bisa memastikan butuh berapa lama untuk merawatnya. Yang namanya patah tulang, biasanya memang agak lama," jelasnya.
Saat ini, kondisi korban stabil. Mereka ditempatkan di beberapa ruangan, seperti ruangan Intensive Care, High Nursing Dependency, High Care Unit, dan ruang rawat jalan. Ruangan-ruangan itu sebelumnya digunakan untuk korban bencana.
Seperti diketahui, KA Agro Anggrek jurusan Jakarta-Suraba menabrak KA Senja Utama di Stasiun Petarukan, Pemalang, sekitar pukul 03.00 WIB, Sabtu (2/10/2010). Akibat kejadian itu, gerbong terakhir KA Senja Utama ringsek. Kecelakaan maut itu juga menyebabkan 34 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Sejumlah penumpang selamat menyayangkan lambannya pertolongan kepada korban. Sejumlah petugas medis, baru tiba sejam setelah kecelakaan terjadi.
Demikian pula dengan alat berat yang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban-korban yang terjepi. Alat berat baru datang ke lokasi kejadian 4 jam kemudian.
PT KA berkilah, lamanya pengiriman alat berat semata-mata disebabkan jauhnya jarak. Alat berat tersebut didatangkan dari sejumlah tempat, antara lain Tegal.
(djo/djo)











































