Maksimalkan Keselamatan, Dualisme Kepemimpinan KA Harus Diakhiri

Maksimalkan Keselamatan, Dualisme Kepemimpinan KA Harus Diakhiri

- detikNews
Senin, 04 Okt 2010 11:44 WIB
Maksimalkan Keselamatan, Dualisme Kepemimpinan KA Harus Diakhiri
Jakarta - Kecelakaan kereta api masih kerap terjadi meskipun menteri berganti dan sejumlah direksi di perkeretaapian diganti. Pergantian personel dinilai tidak mampu memaksimalkan pelayanan, utamanya keselamatan, selama dualisme kepemimpinan KA terus terjadi.

"Dualisme dalam kepemimpinan kereta api antara Kementerian BUMN dan Kemenhub harus segera dihapus," ujar pengamat transportasi Harun Al Rasyid Lubis kepada detikcom, Senin (4/10/2010).

Dia menjelaskan, Kementerian BUMN tidak berkapasitas dan fokus dalam
menyupervisi PT KA. Hal ini disebabkan perusahaan BUMN yang diurus sudah seabrek-abrek, mulai dari pabrik kertas, telekomunikasi hingga satelit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi cuma setengah kamar yang fokus terhadap PT KA. Kalau urusan pelayanan publik, sebaiknya Kemenhub saja yang jadi bos, biar PT KA menurut sama regulator, khususnya dalam compliance terhadap aturan keselamatan," sambung staf pengajar ITB ini.

Menurut dia, penunjukan direksi PT KA sebaiknya terlepas dari campur tangan Kementerian BUMN. Sehingga dalam hal ini Kemenhub lah yang menjadi komandannya.

"Agar PT KA tidak mbalelo ke Kemenhub atau regulator. Selama ini terkesan PT KA punya dua bos, membingungkan dari sisi tata kelola dan efektivitas komando," terang Harun.

Terkait tata kelola infrastruktur KA, dalam masa peralihan sebaiknya memisahkan accounting biaya prasarana, dan selanjutnya menyiapkan unit yang menjadi cikal bakal Badan Layanan Umum (BLU) atau Perum Prasarana KA.

"Perlu waktu sampai 5 tahun masa transisi sebelum prasarana berpisah penuh dari PT KA," lanjutnya.

Harun menuturkan, sekarang ini dalam mengelola infrastruktur KA cukup dengan kontrak manajemen, di mana pemerintah sebagai manajer prasarana dan PT KA sebagai penerima delegasi pengoperasian prasarana.

Dengan pengelolaan yang lebih sistematis, Harun yakin, pelayanan jasa angkutan transportasi kepada masyarakat akan lebih baik. Termasuk juga terkait layanan keselamatan yang nantinya akan minim saling lempar tanggung jawab ataupun mencari kambing hitam.

Kecelakaan KA sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. Yang terkini adalah KA Argo Anggrek yang menubruk KA Senja Utama tujuan Semarang di Pemalang, Jawa Tengah, pada 2 Oktober lalu, menewaskan 35 orang. Di hari yang sama KA Bima menubruk KA Gaya Baru di Solo, Jawa Tengah, menewaskan 1 orang.
(vit/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini