"Ini seperti pengulangan pada 2006 lalu, yang dilakukan M Nuh di Restoran A&W," ujar pengamat terorisme Al Chaidar dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (1/10/2010).
M Nuh bekerja sendiri dalam merakit dan meledakkan peledak pada 11 November 2006. Frustasi, depresi, atau ingin mencari sensasi bisa menjadi faktor pemicu seseorang nekat meledakkan peledak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"M Nuh lebih serius terinspirasi gerakan jihad. Kalau yang ini (Ahmad) seperti orang linglung yang dimanfaatkan untuk merusak citra polisi. Seperti political game, karena menggunakan orang bawah sebagai alat," ucap Al Chaidar.
Ditambahkan dia, biasanya teroris itu memiliki fisik yang kuat. Dalam aksi maupun setelah aksi, dia tidak akan pernah berpura-pura gila. Karena kepura-puraan semacam itu dianggap tidak akan membawa hasil.
"Kalau ditangkap dan ditanya, dia akan menerangkan. Tidak ada istilahnya penyesatan," sambung Al Chaidar.
Aksi M Nuh mengakibatkan dirinya terluka. Selain itu, tempat kejadian mengalami kaca retak dan 3 lampu gantung pecah. Saat diperiksa polisi, Nuh mengaku aksinya yang menghebohkan itu hanya sekedar mencari sensasi.
M Nuh, diganjar 4 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Dia dinilai terbukti melakukan tindak pidana terorisme sesuai pasal 7 UU No 15/2003 tentang terorisme.
Sedangkan aksi Ahmad, hingga kini belum diketahui motifnya. Namun banyak pengamat menilai dia tidak masuk jaringan terorisme.
(vit/nrl)











































