"Dia pemain tunggal. Intinya orangnya tidak profesional dan proporsional," ujar pengamat terorisne Mardigu WP kepada detikcom, Jumat (1/10/2010).
Mardigu menilai, jika target Ahmad adalah polisi, dia seharusnya menabrak Pospol Sumber Arta. Namun Ahmad malah meledakkan bom itu di sekitar pasar dan pospol.
"Ini dia sendiri yang celaka. Dia sial. Semua kan jadi bingung siapa targetnya," kata Mardigu yang sering dilibatkan polisi menangani terorisme.
Mardigu tidak menganggap Ahmad sakit jiwa. Sebab Ahmad melakukan aksinya dengan berbagai persiapan. "Kalau tidak waras nggak mungkin mau ngerjain ini," imbuh Mardigu.
Yang sedang diselidiki saat ini, lanjut Mardigu, dari mana Ahmad belajar bom rakitan. Namun Mardigu menilai Ahmad bukan dari kelompok teroris tertentu.
"Kalau tindakan mengacau keamanan itu namanya teroris. Tapi kalau teroris yang ada pengikutnya, Ahmad bukan teroris," ungkapnya.
Karena itu, untuk memastikan motif pengemboman, Ahmad harus diinterogasi. Namun hingga kini kondisi Ahmad belum memungkinkan.
"Dia belum diinterview. Orang setengah sadar, bangun, jatuh lagi. Untung dia tidak amnesia, kalau amnesia, habis itu," tutup Mardigu.
Ledakan bom rakitan terjadi di Pasar Sumber Arta pada Kamis 29 September sekitar pukul 08.00 WIB. Korban dalam ledakan ini adalah pembawa bom itu yakni Ahmad yang menaiki sepeda.
Ahmad kini terbaring di RS Polri Kramatjati. Dia mengalami luka akibat senjata makan tuan.
(nik/nrl)











































