Ha tersebut disampaikan pakar banjir Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Eng. Ir. Agus Maryono, kepada wartawan di kantor pusat Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (30/9/2010).
Agus mengatakan, masterplan DKI saat ini belum mampu mengantisipasi perubahan cepat dari pembangunan perkotaan. Sebagai contoh, di Jakarta telah terjadi konversi dari daerah rawa menjadi kawasan terbangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, buruknya masterplan Jakarta tersebut telah menyebabkan penurunan permukaan air tanah yang mencapai 0,5 - 12 cm per tahun. Hal itu disebabkan pesatnya pembangunan infrastruktur dalam 20 tahun terakhir ini sehingga mengakibatkan menurunnya jumlah ruang terbuka hijau di Jakarta .
"Padahal ruang hijau ini digunakan sebagai daerah resapan air. Areal hijau di Jakarta tinggal 6,6 persen. Padahal 15 tahun lalu areal hijau mencapai 28 persen," ungkap Agus.
Agus menambahkan, persoalan banjir ini merupakan tanggung jawab bersama berbagai pihak. Dia berharap, ada kerjasama yang baik antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mengatasi persoalan penurunan permukaan air tanah dan banjir ini. Salah satunya dengan membangun sumur resapan dan biopori di sekitar pekarangan rumah.
"Sumur resapan dan biopori itu penting dibuat di Jakarta. Kenaikan air laut di Jakarta saat ini mencapai 25 cm. Diperkirakan dalam waktu 50 tahun ke depan Jakarta akan tenggelam," kata Agus. (djo/djo)










































