Tokoh masyarakat yang hadir berjumlah tujuh orang yang mewakili dua daerah yang kemarin bentrok yaitu Maluku dan NTT. Kedatangan mereka ini diterima lasngsung oleh wakil Ketua DPD, Laode Ida.
"Kedatangan kita ke sini atas undangan DPD terkait insiden di Jalan Ampera kemarin, dimana meraka yang bertikai sebenarnya sama-sama anak Indonesia. Yang ingin mensejahterakan hidupnya dan negara," ujar juru bicara dari PTI, Zakaria Sabon, di Gedung DPD, Jl Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, (30/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hingga saat ini kami melihat belum ada konsep yang tepat dan memadai untuk pemuda-pemuda asal Timur. Ini menimbulkan persoalan kesenjangan kesejahteraan yang mereka rasakan. Akibatnya mereka hijrah ke ibukota untuk mencari yang kemudian gampang terpancing dengan adanya beberapa pihak yang coba memanfaatkan ini," kata Zakaria.
"Saya yakin ada aktor intelektual di balik ini," tegasnya.
Zakaria bersama tokoh masyarakat Timur yang hadir sangat menyayangkan insiden itu. Polisi seperti melakukan pembiaran.
"Minggu lalu kan sudah terjadi aksi seperti ini, kenapa kemarin polisi tidak memperketat pengamanan dan pengawasan. Harusnya kan yang minggu lalu itu bisa jadi pelajaran," ucapnya.
Timpangnya kesejahteraan yang masyarakat Timur rasakan menurut Zakaria, harusnya tidak terjadi jika pemerintah bersikap adil dalam pembangunan.
"Akar permasalahan ini adalah masalah pembangunan di wilayah Timur dan barat yang tidak seimbang. Maka itu kami juga meminta kepada pemerintah untuk lebih memeperhatikan kami," kata Zakaria.
Atas curahan hati masyarakat Indonesia Timur tersebut, anggota DPD dari Maluku dan Flores berjanji akan menyelsaikan permasalah ini.
"Kami dari DPD akan berjuangan demi keadilan di wilayah Timur, karena ini penting. Jangan sampai kita diperalat dan diadu domba. Kita akan adanya pembangunan di sana untuk kesejahteraan masyarakat," ujar anggota DPD dari Maluku Jack Osdara.
"Kita ingin selesaikan maslah ini dengan keleluargaan," tutup Jack.
(lia/nwk)










































