"Tengah hari bolong bacok-bacokan, tembak-tembakan. Kaya di film-film aja," ujar tukang ojek di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Toriq saat berbincang dengan detikcom, di Jl Penjernihan, Benhil, Jakarta Pusat, Kamis (30/9/2010).
Peristiwa bentrokan di Jl Ampera Raya tersebut menurut Toriq dan rekan seprofesinya yang lain adalah aksi premanisme. Jakarta pun dinilai tidak aman lagi bagi warganya.
"Kalau siang bolong dan banyak polisi aja bisa kaya gitu, apalagi kalau sepi. Kita warga jadi takut juga. Malah katanya sopir Kopaja juga jadi korban, ini kan biadab," tutur Nurochman menimpali pernyataan Toriq.
"Kalau memang mereka pada seneng perang, aduin aja sekalian di lapangan biar mampus semua. Jangan orang nggak tahu apa-apa jadi korban. Kasihan itu istrinya nangis mulu waktu di TV," tambah Nur warga Tanah Abang ini.
Bentrokan yang terjadi menjelang sidang kasus perkelahian di Blowfish pada Rabu 29 September kemarin telah menewaskan tiga orang. Frederik Letlet, Saefudin dan Agustinus Tomasoa tewas mengenaskan dalam aksi brutal tersebut.
(her/nwk)











































