"Rata-rata sikap parpol mengutuk kejadian-kejadian itu (terkait isu toleransi), tapi itu sikap yang sepertinya spontan, individual, dan tidak menjadikan isu itu sebagai agenda kontinyu," kata Direktur Lembaga Survey Indonesia (LSI) Dodi Ambardi.
Hal ini disampaikan dalam diskusi bertema 'Mengukur Sikap Partai Politik Menghadapi Isu Toleransi' di kantor LSI, Jl Lembang Terusan No 57D, Jakarta Pusat, Rabu (29/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dosis reaksi yang diberikan pada kasus-kasus toleransi itu dosis rendah dan relatif individual," ujar Dodi.
Kurangnya perhatian ini juga disebabkan oleh siklus pemilu. Parpol akan cenderung mengangkat isu toleransi apabila waktu pemilu semakin dekat. Sebab, isu tersebut memberikan banyak suara yang masuk bagi partai.
"Akan berbeda penanganannya kalau peristiwa-peristiwa intoleransi itu terjadi satu tahun sebelum pemilu," kata dia.
Dalam diskusi yang sama, Ketua Fraksi Partai Demokrat, Jafar Hafsah membantah hal tersebut. "Isu toleransi sebenarnya cukup penting. Kita tidak membicarakan setiap hari bukan berarti kita tidak peduli," ujar Jafar.
Apabila ada survei yang mengatakan perhatian parpol terhadap isu toleransi masih kurang, hal itu keliru. Menurutnya, survei hanya melihat pendapat bukan realita.
"Kalau kita bilang tidak toleran itu kan pendapat. Lihat dulu realitanya bisa jadi kita toleran," tutur dia.
(ayu/fay)











































