Kompolnas: Kematangan Intelijen Polisi Lebih Penting Daripada Kegendutan

Kompolnas: Kematangan Intelijen Polisi Lebih Penting Daripada Kegendutan

- detikNews
Senin, 27 Sep 2010 17:25 WIB
Kompolnas: Kematangan Intelijen Polisi Lebih Penting Daripada Kegendutan
Jakarta - Di Kediri, polisi yang berbadan tambun dipaksa mengikuti latihan fisik untuk mengembalikan bentuk tubuhnya. Hal ini dianggap perlu tapi bukan yang paling penting untuk polisi.

Latihan intelijen dianggap lebih penting dari pada latihan fisik untuk mengembalikan bentuk badan polisi yang tambun. Alasannya, dengan kemampuan intelijen yang baik polisi bisa melakukan pendekatan budaya daripada pendekatan fisik.

"Bukan berarti tidak penting, ini (tubuh tidak gemuk) penting untuk bergerak tapi bukan yang mutlak. Karena justru yang paling penting dilakukan polisi adalah pendekatan budaya seperti sosialisasi bukan kekerasan fisik," kata anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Novel Ali saat berbincang dengan detikcom, Senin (27/9/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebab menurut dia, intelijen merupakan basis dari semua kepolisian. "Jadi jangan melulu dikaitkan dengan kekerasan dan fisik," ujarnya.

Pemaksaan latihan fisik untuk mengembalikan bentuk tubuh para polisi ini menunjukkan pola kerja polisi yang reaktif bukan preventif. "Ini kan seperti kita jadi reaktif, kalau ada apa-apa baru latihan. Justru lebih penting latihan intelijen," kata dia.

Selain itu, hal penting lain yang perlu diperhatikan polisi adalah kematangan psikologis. Sebab selama ini kematangan psikologis para polisi masih sangat kurang.

"Sehingga kurikulum itu menurut saya character building yang harus diutamakan. Masih kurang sekali," ungkap akademisi Undip ini.Β 

Lagi pula, tubuh yang gemuk, menurut Novel, dipengaruhi banyak hal, bukan hanya faktor fisik yang bisa ditangani dengan latihan saja. "Kadang (gemuk) karena keturunan dan usia. Itu kan tidak bisa kita paksakan," imbuh Novel.

"Idealnya memang begitu (tidak gemuk), tapi apa harus dipaksa? Apa kalau gemuk mereka harus meninggalkan korps?" tuturnya.

(ayu/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads