Hal itu disampaikan pemuka agama Islam yang berada di belakang rencana kontroversial tersebut, Imam Feisal Abdul Rauf.
Dalam wawancara dengan program 60 Minutes di stasiun televisi CBS, imam tersebut mengatakan, dirinya merasa berkewajiban untuk membantu melindungi warga non muslim Amerika dari serangan seperti itu.
Dikatakan Rauf, pembangunan pusat budaya yang akan mencakup masjid tersebut merupakan hal yang tepat untuk dilakukan. "... Amerika memerlukan itu dan dunia muslim memerlukan itu," tutur Rauf.
"Kita harus melancarkan perdamaian," imbuhnya seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (27/9/2010).
Para pengkritik rencana tersebut keberatan dengan jarak lokasi pusat budaya Islam tersebut yang hanya dua blok dari Ground Zero. Kedekatan lokasi tersebut dianggap melukai perasaan para keluarga korban serangan 11 September.
Ketika ditanya apakah tidak sensitif membangun pusat budaya tersebut begitu dekat dengan Ground Zero, Rauf berkata: "Kami ingin mencegah 9/11 lainnya.... Kami menginginkan landasan untuk memperkuat suara para moderat."
Menurutnya, kampanye untuk memenangkan hati dan pikirian merupakan bagian penting dari setiap perjuangan militer terhadap para ekstremis radikal.
"Jika 9/11 terjadi lagi di sana, saya ingin menjadi yang pertama yang meninggal," tutur Rauf.
"Adalah tugas saya sebagai warga muslim Amerika untuk berdiri di antara Anda, warga non muslim Amerika dan para radikal yang mencoba menyerang Anda," tegasnya.
(ita/nrl)











































