Merampok Atas Nama Agama Tidak Cerminkan Islam

Merampok Atas Nama Agama Tidak Cerminkan Islam

- detikNews
Senin, 27 Sep 2010 08:52 WIB
Merampok Atas Nama Agama Tidak Cerminkan Islam
Jakarta - Perampokan atas nama agama yang dilakukan oleh teroris dinilai tidak mencerminkan Islam yang mengajarkan kasih sayang. Dalam pandangan teroris, perampokan menjadi halal karena mereka tak mengakui negara yang tidak sesuai dengan konsep mereka.

"Itu tidak mencerminkan sikap umat Islam di mana Islam yang mengajarkan kasih sayang," kata tokoh Muhammadiyah, Abdul Mu'thi saat berbincang dengan detikcom, Senin (27/9/2010).

Padahal, dalam Islam, pada kondisi perang pun dilarang merusak fasilitas vital seperti sumber makanan. Tak hanya itu, anak-anak dan orang tua juga tak boleh disakiti atau dibunuh. "Apalagi kondisi damai," tambahnya.

Menurutnya, sikap teroris ini muncul karena teroris tidak mengakui pemerintahan yang tidak sesuai dengan konsep mereka. Karena tidak mengakui, maka produk hukum yang dibuat oleh pemerintah tidak harus dipatuhi. "Oleh karena itu mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang sah," beber Mu'thi.

Meski perbuatan tersebut mengakibatkan kematian orang yang tak bersalah, teroris menilai itu konsekuensi logis dari perjuangan. "Seperti kata Imam Samudra, kalau ada yang meninggal dari kalangan Islam akibat aksi mereka, cukup meminta maaf," tutup Mu`thi.

Pada Jumat lalu, Kapolri Jenderal BHD membeberkan  aksi perampokan termasuk yang terakhir menimpa Bank CIMB Niaga di Medan, Sumatera Utara (Sumut), dilakukan oleh para tersangka teroris. Bagi mereka, merampok merupakan pekerjaan halal.

"Bagi mereka, merampok, fa'i, itu sah dan halal, karena harta itu didapat dari orang kafir," kata Kapolri.

Selain CIMB Niaga, Kapolri menyebutkan, para teroris yang sebagian telah ditangkap diketahui adalah pelaku beberapa aksi perampokan sebelumnya. Sebut saja perampokan uang Rp 57 juta di sebuah warnet, uang Rp 600 juta dari money changer, serta uang Rp 75 juta dari Bank Sumut. Semuanya terjadi di Medan.

Uang dari hasil perampokan itu dipakai untuk membiayai operasi dan pedirian kamp-kamp pelatihan. Selain itu, uang tersebut digunakan untuk membeli senjata api.

(asp/nrl)


Berita Terkait