"Selama 3 tahun, gaji dibayar hanya dibayar pas kami jemput. Itupun setelah dipaksa dan tidak jumlahnya tidak utuh," kata pendamping Sulis, Erna dari LBH Apik, Jakarta, kepada detikcom, Minggu,(26/9/2010) malam.
Dengan terus menangis, Sulis menceritakan masa-masa kelabu tersebut. Tahun 2007, sebuah mobil travel mengantarkannya dari, Magelang Jawa Tengah sampai di sebuah rumah di Bekasi. Sejak pagi itulah, mereka mulai bekerja untuk majikan yang belakangan diketahui bernama Paulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak 2007 hingga pertengahan bulan September 2010, perlakuan tidak manusiawi dialami Sulis. Majikannya bertindak kasar. Dia tak diperkenankan keluar rumah. Kirim surat atau memberi kabar keluarga di kampung pun tak diizinkan. Bahkan, sekadar membeli pembalut wanita pun dilarang. Alhasil, dia mengenakan kain seadanya.
"Gaji tiap bulan tak pernah diberi," kisah gadis lugu ini.
Akibat tekanan bertahun-tahun, dia memberanikan diri menelepon mantan majikannya, dokter Simarmata yang tinggal di Pasar Minggu. Setelah itu, dokter Simarmata pun langsung menjemput Sulis. Lewat perdebatan alot, Sulis bisa keluar dan bekerja kembali di rumah dokter Simarmata.
"Harusnya, selama 3 tahun, gaji saya Rp 12 juta. Tapi hanya dikasih Rp 8 juta. Katanya, selisihnya buat bayar barang-barang yang rusak seperti piring pecah. Padahal itu tidak benar," bebernya.
Kini, Sulis sudah bisa menghirup udara segar. "Tapi bagaimana dengan Siti Juleha?" Sulis bertanya dengan tangis yang tak kunjung berhenti. (asp/anw)










































