"Diharapkan kain-kain tenun itu dalam waktu dekat diakui UNESCO sebagai intangible cultural heritage (warisan kebudayaan bukan benda, red), menyusul batik, wayang dan keris," tutur Dubes RI di Athena, Ahmad Rusdi, kepada detikcom (25/9/2010).
Kain-kain tenun dari berbagai daerah Indonesia tersebut oleh Dubes Rusdi diangkat menjadi tema resepsi diplomatik KBRI Athena di Wisma Duta (22/9/2010), yang dilaksanakan berkenaan dengan perayaan HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk misi tersebut, diplomat karir putera pedagang batik Pekalongan, itu tidak perlu mengeluarkan dana esktra namun cukup mengerahkan 50 kain tenun koleksi pribadi istrinya, Anita Rusdi, dan Darma Wanita KBRI Athena.
Dijelaskan bahwa kain tenun adalah salah satu keunggulan bangsa Indonesia, suatu kerajinan turun-temurun yang sangat khas corak serta ragamnya, dan digunakan sebagai pakaian sehari-hari sejak dulu hingga kini.
Lanjut Rusdi, kain tenun itu memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik sangat tinggi dari segi warna, motif dan jenis bahan, sehingga merupakan salah satu tradisi budaya Indonesia yang perlu dilestarikan.
"Dengan mengenalkan kain tenun hasil karya anak bangsa diharapkan semakin banyak warisan bangsa dikenal dan dihargai oleh warga dunia, semakin besar pula kebanggaan kita sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, kaya akan karya seni, terbentang dari Sabang sampai Merauke," demikian Rusdi.
Ευχαριστω, Unik, Estetik
Sementara itu Sekretaris III Fungsi Protokol dan Politik Gina Fadilla mengatakan bahwa sekitar 400 tamu hadir, diantaranya 40 Dubes negara sahabat, 5 Kuasa Usaha Ad Interim dan pejabat pemerintah Yunani, masing-masing dengan pasangannya.
"Para tamu, termasuk Kepala Protokol Negara mewakili pemerintah Yunani, menyampaikan kekagumannya atas koleksi kain tenun dan barang-barang yang dinilai unik serta memiliki estetika tinggi," ujar Gina.
Kain-kain tenun tersebut dipadu sedemikian rupa dengan batik, dekorasi barang kerajinan dan seni berupa patung burung Jetayu, ukiran, model gamelan mini, wayang golek, lukisan dan hiasan lainnya, langsung di bawah supervisi ketat Dubes Rusdi, yang juga mantan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan periode I SBY (2005-2009).
Menurut Gina, Dubes Rusdi sengaja menyelenggarakan resepsi diplomatik bertempat di Wisma Duta dengan maksud agar para tamu dan relasi, yang semakin bertambah banyak, dapat merasakan indahnya tatanan dekorasi bernuansa kerajinan dan barang seni budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Selain itu juga agar para tamu undangan dapat menikmati kuliner otentik Indonesia, yang betul-betul diracik oleh jurumasak dari Wisma Duta dan Ibu-ibu Darma Wanita, dibantu warga masyarakat Indonesia di Athena.
Ada sate ayam, sate kambing, nasi goreng, selada Padang, martabak, pempek serta aneka jajanan Nusantara yang sengaja didatangkan oleh KBRI dari tanah air. Aneka masakan yang ditata dalam pondok-pondok tradisional makin menambah selera para tamu untuk menikmati hidangan nusantara tersebut.
"Keterpaduan antara cita, gaya, dan rasa Indonesia tersebut memberikan nuansa di Wisma Duta bagaikan di tanah air dan oleh Duta Besar RI dijadikan sarana promosi budaya Indonesia yang beraneka ragam serta memiliki nilai artistik tinggi," pungkas Gina.
Di halaman Wisma Duta suasana makin meriah dengan denting piano live yang dimainkan oleh pianis Indonesia. Di bawah siraman lentera dan lampu hias nan romantis, lagu-lagu Indonesia, Yunani dan internasional yang melankolis memacu astmosfir malam menjadi bertambah hangat.
Sebagai ungkapan Ευχαριστω (baca: efkharisto, terimakasih, red), para tamu mendapat tas tangan berisi brosur pariwisata, investasi dan perdagangan di Indonesia serta cenderamata tas batik.
(es/es)











































