KTT antara Presiden AS Barack Obama dan 10 pemimpin negara ASEAN berlangsung di Hotel Waldorf Astoria, 301 Park Avenue, New York, AS, Jumat (24/9/2010) dari pukul 13.00-15.00 waktu setempat atau Sabtu (25/9/2010) dini hari WIB.
"Pertemuan tingkat tinggi, US-ASEAN Summit keduanya berjalan sangat bagus. Dalam waktu dua jam ada berbagi hal intinya, saya mendapatkan kesan AS tampaknya memang memberikan perhatian yang lebih besar lagi terhadap ASEAN dibanding waktu-waktu sebelumnya. Dari Bapak Presiden Obama, Amerika ingin lebih punya kedekatan dengan ASEAN," ujar Wakil Presiden Boediono usai mengikuti KTT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pertemuan itu, imbuh Boediono, masing-masing negara menyampaikan
pandangannya. Banyak pandangan yang sama, namun ada juga yang berbeda secara spesifik dari kaca mata masing-masing negara.
"Bahwa bidang yang jadi prioritas kerjasama bidang pendidikan, perdagangan, dan ketiga usulan dari Indonesia di mana yang lain tidak menyinggung ini, dan diterima sebagai salah satu prioritas untuk dijabarkan jadi langkah-langkah konkret, di bidang kehutanan," papar Boediono.
Dia menambahkan kerjasama kehutanan yang diusulkan Indonesia ini dalam kaitannya dengan perubahan iklim. Tanggapan Obama, kerjasama di bidang kehutanan ini mungkin bisa mengacu atau terkait atas kerjasama RI-Norwegia, dalam mengurangi deforestasi dan emisi melalui mekanisme Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) plus.
"Tampaknya diterima baik oleh Presiden Obama," imbuhnya.
Sementara Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan kerjasama di bidang pendidikan, Wapres Boediono memberikan contoh bahwa 10 tahun lalu sekitar 14 ribu mahasiswa Indonesia belajar ke AS daripada China. Dan kini, lebih banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di China.
"Data itu menggugah AS dan kita semua untuk memberikan fokus di bidang
pendidikan," jelas dia.
Selain menyepakati 3 bidang kerjasama yang diprioritaskan, AS-ASEAN juga menghasilkan pernyataan bersama (joint statement). Pernyataan bersama itu seperti keterlibatan AS dalam dinamika kawasan Asia pasifik dan perkembangan arsitektur regional melalui partisipasi AS pada East Asia Summit (EAS) berdasarkan prinsip sentralitas ASEAN.
Kemudian dukungan AS terhadap upaya pembentukan Komunitas ASEAN 2015 dan ASEAN Connectivity. Peningkatan kerjasama di bidang HAM, energi, pertanian, dialog antaragama, iptek, serta upaya penanggulangan kejahatan lintas negara. Serta kesamaan pandangan terhadap isu keamanan maritim sesuai prinsip The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Delegasi RI yang dipimpin Boediono terdiri dari Menlu Marty Natalegawa, Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal, dan Dirjen Asia Kemenlu Djauhari Oratmangun.
Sementara kepala negara yang tampak hadir adalah Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, PM Thailand Abhisit Vejjajiva, PM Singapura Lee Hsien Loong, PM Kamboja Hun Sen, PM Malaysia Dato' Seri Mohd Najib Tun Abdul Razak, serta Presiden Vietnam selaku Ketua ASEAN Nguyen Minh Triet dan tentu saja Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan. Laos yang diwakili Deputi PM, Menlu Thongloun Sisoulith, dan Myanmar yang diwakili Menlu U Nyan Win, dan Filipina diwakili Menkeu Cesar Purisima.
(nwk/mok)











































