Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda J.E 'Fanny' Habibie saat dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (24/9/2010), menyusul simpang- siur di media terkait pernyataannya dan reaksi tokoh anti-Islam Geert Wilders.
Menurut Fanny, beberapa hal telah cukup didialogkan dengan pejabat Kemlu dan tidak sampai terjadi pemanggilan oleh Menlu Maxime Verhagen. "Sikap dan posisi saya jelas. Terkait pemilih di Belanda telah saya luruskan," demikian Fanny.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menyuarakan keresahan rakyat saya, Muslim dan Kristen. Di zaman internet ini, provokasi-provokasi di Belanda jangan dikira tidak berdampak langsung ke pihak-pihak terkait di Indonesia dan belahan lain di dunia," papar Fanny.
Lanjut Fanny, jika mau konsekuen dengan kebebasan berpendapat dan berbicara, maka siapapun tidak bisa membungkam dirinya dari kebebasan menyuarakan keprihatinan, selama yang dia lakukan masih dalam koridor dan kesopanan hubungan antar-bangsa.
Terkait kunjungan presiden, Fanny mengatakan tetap sesuai dengan rencana semula dan tidak akan terganggu. "Hubungan Indonesia-Belanda tetap mulus, kecuali Wilders ikut menentukan kebijakan pemerintah Belanda maka hubungan baik kedua negara bisa dalam tekanan," demikian Fanny.
(es/es)











































