"Saya sudah berpikir harus membuat suatu sistem dan terapi tersendiri di LP. Ternyata selama ini apa yang kita lakukan belum begitu mantap," kata Patrialis di kantornya, Jl Rasuna Said, Jaksel, (24/9/2010).
Teroris yang ditangkap di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara (Sumut) beberapa waktu silam digerakkan oleh Abu Tholut. Pria yang memiliki nama asli Mustofa tersebut pernah divonis 8 tahun, namun bebas karena mendapat remisi hingga 4 tahun
Abu Tholut itu pernah menjadi Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah di Poso (2000-2002), sebelum kemudian diserahkan kepada Nasir Abas, yang kini menjadi pengamat terorisme. Abu Tholut juga dinilai memiliki keahlian lebih berbahaya dibanding Dulmatin ataupun Noordin M Top terkait kemampuannya membangun laboratorium bom.
Menanggapi belum punahnya ideologi ekstrimis Abu Tholut yang tak juga hilang meski pernah dipenjara, Patrialis mengatakan bahwa untuk melakukan hal itu memang cukup sulit. Apalagi untuk orang yang prinsip hidupnya sudah tidak bisa diubah lagi oleh siapapun.
"Jadi kalo orang sudah punya prinsip yang tidak bisa diubah, kita sulit juga. Jangankan orang lain yang tidak memiliki hubungan darah, di keluarga yang ada hubungan darah saja, dikasih tau, tetap saja membandel."
(lh/lh)











































