Menlu Belanda: Dubes RI Berhak Jelaskan Kekhawatiran Pencitraan Islam

JE Habibie vs Wilders

Menlu Belanda: Dubes RI Berhak Jelaskan Kekhawatiran Pencitraan Islam

- detikNews
Jumat, 24 Sep 2010 11:20 WIB
Menlu Belanda: Dubes RI Berhak Jelaskan Kekhawatiran Pencitraan Islam
Den Haag - Dubes RI untuk Belanda, Junus E Habibie, menjawab tudingan politisi anti-Islam Geert Wilders. Menurut Junus, Presiden SBY tidak akan membatalkan kunjungannya ke Belanda. Namun, keberadaan Wilders di kabinet memang akan ada pengaruhnya.

Sebelumnya saat diwawancarai media setempat Financieele Dagblad edisi Kamis 23 September, Junus disebut meragukan Presiden SBY akan berkunjung ke Belanda jika Partij voor de Vrijheid/PVV (Partai untuk Kebebasan) yang dipimpin Wilders masuk dalam pemerintahan. Pemilih PVV pun dinilai sakit jiwa.

Nah, menurut Junus, telah terjadi salah kutip atas pernyataannya. Kepada Radio Netherlands, Junus mengatakan rencana kunjungan SBY ke Belanda pada Oktober mendatang tidak berubah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden SBY tetap akan berkunjung ke Belanda. Meski demikian, jika Wilders ada di pemerintahan, kunjungan kenegaraan akan menjadi kurang menyenangkan," kata Junus seperti dilansir situs radio itu rnw.nl, Jumat (24/9/2010).

Atas pernyataan Junus sebelumnya, Wilders menjadi berang dan meminta Menlu Belanda Maxime Verhagen memanggil adik mantan presiden BJ Habibie itu. Junus pun telah berkomunikasi dengan seorang pejabat Kemlu Belanda dan mengakui sebaiknya memang dia tidak mengomentari para pendukung PVV. Meski demikian, Menlu Verhagen mengatakan Junus punya hak untuk menyampaikan suara rakyat Indonesia terhadap kebijakan PVV yang anti-Islam.

"Dubes punya hak untuk menjelaskan kekhawatiran yang dirasakan Indonesia mengenai pencitraan terhadap Islam yang dikedepankan oleh PVV," kata Verhagen.

Presiden SBY memang telah dijadwalkan pergi ke Belanda pada Oktober 2010 untuk mempererat hubungan kedua negara. Kunjungan ini akan menjadi kunjungan bersejarah karena tidak ada presiden RI yang ke Belanda selama ini, kecuali Gus Dur dalam rangka kunjungan kerja.

Pada Juni lalu, SBY menekankan pentingnya mempererat hubungan Indonesia dan Belanda. Salah satunya untuk memperjelas mengenai pro kontra kapan Indonesia merdeka. Sebagian pihak internasional mengakui Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, sebagian lagi mengatakan Indonesia merdeka sekitar tahun 1950.

Sebenarnya, kata SBY, pengakuan bahwa Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945 telah diperlihatkan Belanda saat mengirimkan Menteri Luar Negeri Bernard Bot ke Jakarta untuk menghadiri peringatan 17 Agustus 1945 pada tahun 2005. SBY berharap pro kontra mengenai hal ini bisa berakhir.
(fay/nrl)


Berita Terkait