Dikritik Dubes RI di Belanda, Geert Wilders Berang

Dikritik Dubes RI di Belanda, Geert Wilders Berang

- detikNews
Jumat, 24 Sep 2010 10:22 WIB
Dikritik Dubes RI di Belanda, Geert Wilders Berang
Den Haag - Geert Wilders tentunya bukan nama yang aneh bagi publik Indonesia. Politisi Belanda pemimpin Partij voor de Vrijheid/PVV (Partai untuk Kebebasan) pernah menggemparkan dengan film Fitna, yang anti-Islam. Berita terbaru tentangnya, dia mengecam Dubes RI untuk Belanda Junus Effendi Habibie.

Wilders mengecam statemen berani Junus yang mengatakan Presiden SBY bisa batal pergi ke Belanda kalau ada Wilders di parlemen dan mengatakan pemilih PVV sakit jiwa.

Kegeraman Wilders ini dipicu wawancara Junus di media setempat Financieele Dagblad edisi Kamis 23 September, terkait rencana kunjungan Presiden SBY ke Belanda pada Oktober mendatang. Di media itu dikutip Junus menyebutkan SBY tidak akan ke Belanda jika ada orang seperti Wilders di kabinet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tentu Presiden tidak akan datang ke Belanda jika ada orang di kabinet Belanda yang mengatakan Islam adalah sebuah kemunduran. Saya tidak mau Presiden saya dijadikan badut," kata Junus seperti dilansir DutchNews.nl, Jumat (24/9/2010).

Adik BJ Habibie ini mengatakan hubungan Belanda dan Indonesia akan tersakiti jika Wilders masuk dalam pemerintahan. Junus juga menilai orang-orang yang memilih partai pimpinan Wilders saat pemilu adalah tidak waras.

Wilders pun berang atas ucapan Junus. Dia meminta Menlu Belanda Maxime Verhagen untuk memanggil Junus akibat pernyataannya. Sementara, Verhagen menilai ucapan Junus tidak etis.

"Saya pikir tidak bijaksana menyebutkan pemilih PVV demikian. Seorang dubes semestinya tidak berkomentar tentang para pendukung partai," ujar Verhagen.

Presiden SBY dijadwalkan pergi ke Belanda pada Oktober 2010 untuk mempererat hubungan negara. Kunjungan ini akan menjadi kunjungan bersejarah karena tidak ada presiden RI yang ke Belanda selama ini, kecuali Gus Dur dalam rangka kunjungan kerja.

Pada Juni lalu, SBY menekankan pentingnya mempererat hubungan Indonesia dan Belanda. Salah satunya untuk memperjelas mengenai pro kontra kapan Indonesia merdeka. Sebagian pihak internasional mengakui Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, sebagian lagi mengatakan Indonesia merdeka sekitar tahun 1950.

Sebenarnya, kata SBY, pengakuan bahwa Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945 telah diperlihatkan Belanda saat mengirimkan Menteri Luar Negeri Bernard Bot ke Jakarta untuk menghadiri peringatan 17 Agustus 1945 pada tahun 2005. SBY berharap pro kontra mengenai hal ini bisa berakhir.

(fay/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads