Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman Eddy Pratomo dalam sambutan pengantar resepsi diplomatik di Wisma Indonesia, Berlin, Rabu malam waktu setempat atau Kamis (23/9/2010).
Untuk kali pertama resepsi diplomatik tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Luarnegeri Jerman Pieter Ammon, 74 dubes negara sahabat, termasuk antara lain para dubes negara-negara ASEAN, Russia, Prancis, Kanada dan Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dubes Eddy menjelaskan bahwa bangunan Wisma Indonesia, Berlin, merupakan simbol hubungan diplomatik yang ramah dan konstruktif antara Indonesia dan Jerman, yang telah dipelihara sejak 1952, demi keuntungan bersama satu sama lain.
"Kehadiran Menristek RI dalam rangka kunjungan kerja di Jerman juga membuktikan keeratan hubungan Indonesia dan Jerman, di mana kita berusaha untuk terus membina dan menumbuhkan demi keuntungan bersama," papar Eddy.
Disebutkan bahwa kunjungan presiden RI Yudhoyono ke Jerman pada Desember akhir tahun lalu juga menandai hubungan sangat erat Indonesia-Jerman.
Diskusi tΓͺte-Γ -tΓͺte (percakapan privat, red) antara presiden RI dengan presiden Federal Jerman Horst KΓΆhler saat itu dan Kanselir Jerman Angela Merkel meluas ke banyak bidang kerjasama, termasuk ekonomi, pendidikan, sains dan teknologi serta pertahanan keamanan.
Menurut Eddy, Indonesia akan terus melanjutkan langkah-langkah reformasi demokratis yang kini memasuki dasawarsa kedua. Instabilitas politik di masa lalu telah berevolusi menjadi keandalan seimbang, keprihatinan sosial menuju kebangkitan kesejahteraan, dan kemerosotan ekonomi menjadi pertumbuhan yang kokoh.
"Dalam upaya mencapai semua itu Indonesia sangat beruntung punya banyak sahabat. Salah satu dari banyak sahabat itu adalah pemerintah dan rakyat Jerman," demikian Eddy. (es/es)











































