Demikian disampaikan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Scot Marciel, Kamis (23/09/2010) saat mengunjungi Pondok Pesantren Pabelan, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Scot disambut langsung oleh pimpinan Ponpes, KH Ahmad Mustofa serta pimpinan bidang pendidikan Ahmad Najib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Scot menyatakan sejumlah serangan yang diduga terorisme di Indonesia merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi bersama.
"Sebagai negara berkembang pasti punya masalah. Namun, Indonesia dan Amerika tetap akan bekerja sama dalam hal-hal positif seperti pendidikan, kesehatan, lingungan dan kemakmuran," ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Scot juga menggelar dialog interaktif dengan para santri. Saat dialog dia sering memaparkan kondisi muslim di AS dan perkembangannya hingga saat ini.
"Saya punya seorang anak laki-laki yang berteman akrab dengan seorang muslim dari Iran dan Indonesia di Virginia dan semuanya baik-baik saja. Mereka sering bermain bola bersama," katanya.
Sejauh ini, Scot menambahkan penilaian orang AS terhadap Islam masih cukup bervariasi. Ada sebagian kecil yang masih menganggap agama Islam sebagai musuh yang ditakuti.
"Orang muslim AS sudah mulai memberitahukan bahwa Islam tidak seperti itu (teroris). Namun, agaknya masih belum banyak dimengerti," cetusnya heran.
Sementara itu, KH Ahmad Mustofa mengharapkan kerjasama dengan AS dapat terus dilakukan. Misalnya kembali mengirimkan relawan untuk mengajar di pondok pesanternnya seperti yang sudah terjadi beberapa waktu lalu.
"Animo santri belajar Bahasa Inggris sangat tinggi. Diharapkan bisa semakin maju dengan adanya guru asing di sini," ujarnya Ahmad.
Selain melakukan pertemuan dengan pengurus dan beberapa staf pengajar ponpes, Scot juga mengunjungi santri yang sedang mengikuti pelajaran di beberapa laboratorium. Ponpes memiliki dua laboratorim yakni laboratorium bahasa dan komputer. Ada pendidikan keterampilan seperti menjahit dan membuat kerajinan.
(irw/irw)










































