"Penting untuk mengungkapkan yang lebih besar, dan juga memudahkan untuk mengungkap siapa biangnya dan siapa yang membiayai," kata mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, Kamis (23/9/2010).
Dia menjelaskan, kalau terbunuh, akan sulit mengungkapkan jaringan yang lain. Butuh tenaga ekstra, misalnya dengan penyadapan dan merekrut informan yang ada di sekeliling pelaku teror itu.
"Lebih mudah kalau hidup, tapi mungkin kepolisian belum siap, daripada jadi korban," terangnya.
Endriartono memberi contoh dalam penggerebekan tersangka Ibrohim, pelaku aksi bom di JW Marriott pada 2009 lalu. Saat itu di Temanggung, untuk menangkap tukang kembang saja polisi sampai membutuhkan waktu 2 malam.
"Kemudian pelaku mati, padahal cost-nya mahal sekali itu. Dia sendirian dan tidak bersenjata," tambahnya.
Endriartono menduga, aksi pelaku teror yang menyerang Mapolsek Hamparan Perak itu pun sebagai ajang balas dendam atas aksi penyergapan yang dilakukan tim kepolisian.
"Akhir-akhir ini polisi menggulung teroris, membunuh, dan menangkap, akhirnya mereka menjadikan polisi musuh. Mereka tidak peduli yang menangkap siapa, tapi melihat polisi sebagai lawan," imbuhnya.
Diketahui dalam penggerebekan Densus 88 pada Minggu (19/9) kemarin, 3 terduga pelaku teror tewas didor. Namun kemudian pada Rabu (22/9) dini hari, pelaku teror membalas menyerang Polsek Hamparan Perak, 3 polisi tewas dalam insiden ini.
(ndr/fay)











































