Korban adalah warga Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau. Korban tewas di ladang perkebunan sawit miliknya sendiri.
"Korban sempat ditunggui harimau sehari semalam, sehingga warga tidak berani mengambil jenazah korban," kata aktivis WWF Riau, Oesmantri, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (23/09/2010) di Pekanbaru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi saat malam itu diketemukan di ladang sawitnya, harimau masih di sekitar jasad korban. Malam itu juga warga langsung meninggalkan lokasi. Esok harinya, warga kembali dan menghalau harimau itu. Setelah harimau pergi, barulah warga berani membawa pulang jasad korban," kata Oesmantri.
Menurut Oesmantri, konflik antara harimau dan warga terjadi akibat habitat harimau yang terus menyempit. Di samping itu, pakan harimau juga sudah susah untuk didapat.
"Apalagi di daerah tersebut kondisi hutan marga satwa Bukit Batu juga sudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan hutan tanaman industri. Sehingga alih fungsi lahan ini memicu terjadinya konflik," kata Oesmantri.
Oesmantri melanjutkan, pemerintah dan perusahaan harus ada langkah bersama untuk menyelamatkan harimau. Penanganan konflik harus segera dilakukan dengan cara mendata wilayah jelajah harimau. Sehingga ada peringatan dini bahwa kawasan tersebut merupakan habitat harimau yang tidak boleh diusik.
"Tanpa ada pendataan seperti itu, mustahil konflik bisa teratasi. Kalau kondisi sekarang ini terus dibiarkan, baik warga atau harimau akan sama sama menjadi korban," kata Oesmantri.
Dalam bulan terakhir ini, konflik antara harimau dan manusia sudah dua kali terjadi. Sebulan yang lalu, warga Kabupaten Rokan Hilir, Riau juga tewas diterkam harimau. Kondisnya juga mengenaskan karena sebagian organ tubuhnya sudah tidak utuh lagi.
"Penangan konflik harus segera dilakukan. Karena bagaimana pun, biasanya akan ada rasa dendam dari warga untuk memburu harimau. Kalau tidak segera teratasi, kondisi harimau akan terus terjepit," pinta dia.
(cha/irw)











































