Kementerian PDT Gandeng UGM Optimalkan Teknologi Tepat Guna

Kementerian PDT Gandeng UGM Optimalkan Teknologi Tepat Guna

- detikNews
Rabu, 22 Sep 2010 17:39 WIB
Yogyakarta - Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengentaskan 183 daerah tertinggal dengan pemanfaatan teknologi tepat guna. Sebab kendala pembangunan daerah tertinggal selama ini adalah macetnya program karena ketiadaan pendampingan pemanfaatan teknologi bagi masyarakat.

"Kami menggandeng perguruan tinggi seperti UGM karena sadar bila beragamnya kondisi daerah sehingga perlu kebutuhan teknologi yang berbeda-beda," ungkap Bambang Sarwono AR, Staf Ahli Bidang Iptek dari KPDT di sela-sela pembukaan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional (TTGN) XII di Gedung Jogja Expo Center (JEC) di Jl Janti, Yogyakarta, Rabu (22/9/2010).

Menurut Bambang, adanya kerjasama dengan perguruan tinggi diharapkan bisa
memberikan rekomendasi pemanfaatan teknologi sesuai karakter wilayah, baik untuk wilayah berciri kontinental, kepulauan atau pun yang banyak memiliki wilayah laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program ini masuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan di daerah. Sebanyak 60 persen daerah tertinggal ada di kawasan Indonesia Timur, mereka butuh teknologi yang tepat agar bisa maju, sehingga tidak tertinggal dengan daerah lain," kata Bambang.

Untuk mendukung program pemanfaatan teknologi tepat guna pada 2010, lanjut dia, disiapkan alokasi dana percepatan pembangunan kawasan industri daerah tertinggal sebanyak Rp 115 miliar berupa dana stimulan ke 120 daerah tertinggal. Diharapkan dengan program yang telah dirancang itu pada 2014 nanti setidaknya 50 kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal bisa terentaskan.

"Setiap tahun setidaknya ada 10 kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal bisa sukses membangun dengan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan dan karakter wilayah masing-masing. Salah satu program yang hendak dipopulerkan yaitu mengubah pola peternakan sapi rakyat untuk penyediaan energi di desa secara mandiri yakni dengan bio gas," katanya.

Bambang mengakui untuk mengubah pandangan tersebut juga bukan perkara mudah bagi masyarakat pedesaan maupun di dearah tertinggal. Namun hal itu harus dilakukan agar terjadi percepatan pembangunan ekonomi.

"Contohnya dengan program pengelolaan sapi nanti kita harapkan mereka juga bisa manfaatkan kotoransapi menjadi bahan bakar biogas. Program seperti ini butuh pendampingan," kata Bambang.

Sementara itu Ambar Pertiwiningrum, Tim Pengembangan Biogas UGM menambahkan pihaknya akan berupaya mengubah mind set masyarakat selama ini terkait pemanfaatan teknologi tepat guna di daerah. Salah satunya dalam soal kelola peternakan secara konvensional.

Menurut Ambar untuk memanfaatkan potensi kotoran hewan ternak dijadikan sumber energi dengan teknologi biogas bisa hasilkan keuntungan berlipat. Disebutkan selama ini, pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi belum dimaksimalkan karena keterbatasan hewan ternak yang dimiliki sebagai sumber bahan biogas.

"Selama ini mereka beternak sendiri-sendiri. Kita ajak mereka untuk bisa produksi biogas dengan sistem berkelompok. Kalau selama ini hanya punya 2 ekor sapi, untuk reaktor biogas setidaknya dibutuhkan 20 ekor agar bisa maksimal produksi biogasnya banyak," kata Ambar.

Disebutkan, Kementerian PDT sendiri sudah memiliki program percontohan di beberapa wilayah baik di Jawa Tengah atau pun Yogyakarta seperti di Kulonprogo, Banjarnegara dan beberapa kota lain untuk pengembangan biogas yang mengolah kotoran ternak sapi sebagai sumber energi. Selain memproduksi energi secara mandiri, sisa pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas bisa dijadikan pupuk untuk mencukupi kebutuhan di sektor pertanian.

"Percontohan sudah berjalan di Kulonprogo dengan sedikitnya 10 orang, mereka berkelompok menghasilkan biogas," kata Ambar.
(bgs/irw)


Berita Terkait