Mengaku Dibogem Anggota DPR, Pujio Lapor Komnas HAM

Mengaku Dibogem Anggota DPR, Pujio Lapor Komnas HAM

- detikNews
Rabu, 22 Sep 2010 15:39 WIB
Jakarta - Pujio Niponsori mendatangi Kantor Komnas HAM dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Giginya copot 4 dan di bibir kirinya ada bekas jahitan. Dia mengaku menjadi korban penganiayaan anggota DPR.

Pujio adalah sopir anggota Komisi IX DPR, MN. Dia belum lama bekerja untuk MN, baru sekitar 3 bulan. Karena dituduh mengambil uang milik MN, Pujio mendapat 3 kali bogem.

"Saya dituduh mencuri uang sebanyak Rp 50 juta. Memang waktu uang tersebut ada di dalam tas di mobil, tapi saya nggak menyentuh tas itu apalagi mengambil," kata Pujio di Kantor Komnas HAM, Jl Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/9/2010).

Pria berumur 40 tahun itu menuturkan, peristiwa terjadi pada Jumat 17 September lalu. Saat itu dia mengemudikan mobil Alphard milik MN sambil membawa tas berisi uang. Uang itu akan ditransfer oleh seseorang bernama D.

"Uangnya Rp 1 miliar 140 juta. Rencananya mau ditransfer D, anggota DPR Cirebon. Awalnya uang itu di mobil Alphard, lalu dipindahkan ke mobil Nissan X-trail. Di mobil itu ada D, pengawal, dan sopir," tutur Pujio.

Pemindahan uang dilakukan di Tower Permai, Mampang, Jakarta Selatan. Tidak lama kemudian Pujio dipanggil untuk bertemu MN di lantai 6 Tower Permai.

"Kau kemanakan uang awak yang Rp 50 juta," kata Pujio menirukan perkataan MN kala itu.

Kepada MN, Pujio mengaku tidak tahu menahu. Mendengar jawaban itu, MN pun berang dan memukul wajah Pujio. Kemudian Pujio dibawa ke daerah Kwitang, Jakarta Pusat. Disampaikan dia, ada beberapa orang di sana, salah satunya adalah MH yang menurut Pujio, merupakan adik salah satu anggota Komisi I DPR. Anggota Komisi I DPR tersebut adalah salah satu pengelola PT Anugerah, tempat di mana Pujio bekerja.

Pujio menyatakan, dirinya baru 3 bulan bekerja di PT Anugerah dan langsung diberi tugas menjadi sopir MN. Sebelumnya dia bekerja sebagai sopir taksi.

"Saya diminta agar mengaku. Keluarga sempat diancam, dibilang nggak akan selamat kalau saya nggak mengaku," tambah dia.

Karena tidak mengakui pencurian yang dituduhkan, Pujio mendapat pukulan di wajahnya dari MH. Tidak juga mengaku, wajah pujio kembali mendapat bogem yang lebih keras. Dia pun kesakitan karena si pemukul memakai alat keras semacam besi di tangannya.

"Gigi saya copot 4, di sebelah kiri atas dan bawah. Lalu keluar darah dari mulut saya dan harus dijahit. Saya waktu itu langsong roboh dan hampir pingsan," beber Pujio.

Seorang warga melihat peristiwa tersebut dan langsung berlari ke markas marinir tak jauh dari tempat kejadian. Anggota marinir lantas datang dan membopong Pujio yang ambruk. Pujio dibawa ke markas marinir itu.

"Mereka ada yang nyamperin ke marinir, tapi tidak dibolehkan," lanjutnya.

Marinir tersebut melaporkan peristiwa itu ke Kepolisian Senen. Kasus pun diteruskan ke Polda Metro Jaya untuk dibuat laporan. Kepada wartawan, Pujio memperlihatkan salinan laporan atas MN, MH, dan D. Ketiganya dituduh melakukan penganiayaan dan pencurian.

"Jumat malam, saya dirujuk ke RSCM untuk divisum namun belum dapat hasil visumnya. Saya ke sini meminta perlindungan Komnas HAM," ucap ayah tiga anak ini.

Pujio menyampaikan, apabila pihak MN ingin berunding, dirinya bersedia melakukan perundingan. "Saya membuka pintu lebar-lebar. Kita rundingkan bersama. Kalau memang ada bukti saya mengambil uang silakan dibuktikan," katanya.

Pujio yang datang didampingi anggota Kontras diterima oleh Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM, Nur Kholis. Dia berjanji akan mengawal proses hukum Pujio. Komnas HAM akan segera mengirim surat ke Polda Metro Jaya agar kasus tersebut ditangani dengan profesional.

"Karena ini melibatkan pejabat. Jadi untuk menghindari relasi antara pejabat dan polisi. Selain itu kami akan mengeluarkan surat perlindungan dan akan melaporkan ke Lembaga Perlindingan Saksi dan Korban (LPSK)," ujar Nur Kholis.

(vit/fay)


Berita Terkait