Pantauan detikcom, Rabu (22/9/2010), keributan itu terjadi di di Ballroom Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Di ruangan tersebut, ada ratusan orang dari Peradi dan KAI yang bercampur menjadi satu. Sulit membedakan mereka dari organisasi yang mana.
Salah seorang staf manajemen hotel melalui pengeras suara yang sebelumnya dimatikan juga meminta agar keributan diakhiri, karena takut nama baik hotel tercemar. Namun, hal itu tidak digubris oleh kedua belah pihak yang tengah berselisih. Bahkan, salah seorang dari KAI langsung merebut mikrofonnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi rebutan mikrofon antara anggota Peradi dan KAI pun lantas terjadi. Gara-gara menolak diminta mundur, salah seorang anggota Peradi nekat meloncat ke atas meja anggota KAI bermaksud ingin menyerang secara fisik. Akhirnya, aksi dorong-dorongan pun pecah.
Belasan polisi yang berjaga langsung merangsek ke kerumunan. Salah satu di antara mereka tampak membawa gas air mata. Namun, upaya polisi tidak berhasil meredakan amarah kedua kubu. Hingga pukul 11.00 WIB, suasana masih belum kondusif. Keributan ini dipicu pengumuman Peradi yang menyatakan baru akan mengusulkan calon advokat dari KAI untuk dilantik oleh Pengadilan Tinggi setelah tiga tahun dan setelah lulus ujian khusus. (irw/nrl)











































