Ari (28) sepupu kandung Fero menyatakan, keluarga Fero dari Bengkalis, Riau, sudah diberitahu soal penangkapan yang dilakukan Densus 88. Saat ini keluarga dalam keadaan bingung, karena Fero tidak diketahui keberadaannya. Upaya mencari informasi ke polisi sudah dilakukan, namun tidak ada keterangan tentang lokasi penahanan Fero.
"Kita semua bingung. Sudah dicari ke Polda, tapi informasinya tidak ada di sana. Keluarga ingin menemuinya, ingin tahu keberadaannya. Tidak ada informasi apapun yang kita peroleh, atau yang diberikan polisi kepada keluarga soal penangkapan itu," kata Ari kepada wartawan di Jl. Marelan Raya, Medan, Selasa (21/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fero bekerja sambilan di warnet ini, sebagai tenaga pengganti kalau operator ada yang tidak masuk. Sekadar untuk menambah uang jajan dan ongkos untuk kuliah," ujar Ari sambil menyatakan Fero kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumut sejak tahun 1996.
Keluarga tidak yakin Fero terlibat dalam kasus terorisme. Selama ini Fero menunjukkan aktivitas yang biasa saja. Saat kejadian perampokan CIMB Niaga, Fero juga sedang berada di rumah, jadi sudah pasti tidak terlibat sama sekali. Sebab itu, siapapun yang menangkap Fero, diminta untuk segera memberikan informasi kepada keluarga tentang keberadaannya, dan yang bersangkutan agar segera dikembalikan kepada keluarga.
Fero ditangkap Densus 88 dari Warnet Kendali Net, Jl. Marelan Raya, Medan Marelan. Selain Fero, dari warnet itu Densus juga mengamankan Dicky Ilfian Alidin (25) penduduk Desa Perdamaian, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumut. Fero dan Dicky merupakan operator di warnet tersebut. Pasca penangkapan itu, warnet tetap beroperasi seperti biasa.
(djo/djo)










































