Demikian diungkap Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha yang membeberkan salah satu materi pembicaraan telepon antara Presiden SBY dengan Winfaidah. Pembicaraan yang difasilitasi oleh Dubes RI untuk Malaysia, Da'i Bachtiar berlangsung pada Minggu (19/9/2010) sekitar pukul 16.00 WIB.
"Presiden meminta Ibu Winfaidah sabar menjalani perawatan di RS di Penang sampai benar-benar pulih. Semua biaya ditangani oleh pemerintah kita," ujar Julian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ibu Winfaidah menyampaikan terimakasih mendapatkan perhatian langsung dari Presiden. Tadi saat ditelepon kondisi psikologisnya sudah membaik setelah beberapa hari tidak bisa bicara karena depresi akibat penganiayaan yang dilakukan pasangan suami istri majikannya," tutur Julian.
Wajar saja bila Winfaidah mengalami depresi berat. Sebab penganiayaan yang menimpanya tidak cuma berupa pemukulan, tetapi juga diseterika pada bagian dada, lalu pemerkosaan, bahkan ada jari tangannya yang putus.
Setelah fisiknya sedemikian lemah, Winfaidah dibuang majikannya ke jalan raya. Pada 13 September 2010 dia temukan oleh warga setempat dan oleh polisi Penang langsung dilarikan ke rumah sakit.
Setelah pulih dari depresi, barulah Winfaidah bisa menceritakan kejadian yang menimpanya kepada polisi. Atas laporan tersebut, Kepolisian Penang lalu menghubungi KBRI di Kuala Lumpur dan menangkap pasangan suami istri majikan Winfaidah.
"Pasangan majikan dari Winfaidah sudah ditangkap pada 17 September. Presiden memerintahkan Dubes Da'i untuk mengawal dan memastikan proses hukum berlangsung. Presiden juga menyampaikan apresiasinya kepada warga dan kepolisian setempat atas pertolongan pertama yang mereka berikan," tutur Julian.
(lh/vit)










































