"Saya tidak percaya itu gerakan dari jaksa. Ini jelas membenturkan presiden.
Mestinya jaksa tidak boleh berlaku seperti itu," kata pengamat anti korupsi,
Saldi Isra saat dihubungi detikcom, Jumat (17/9/2010).
Menurut Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas Padang ini, perilaku jaksa yang menyatakan sikap seperti itu mengindikasikan ada pihak yang menggerakkan. Ia khawatir ada kelompok tertentu yang takut terhadap kehadiran calon jaksa agung dari luar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
kekhawatiran orang luar masuk," analisa Saldi.
Saldi mengatakan, sikap para jaksa dinilai tidak profesional. Ketakutan pihak tertentu sangat jelas terbaca dalam pernyataan sikap mereka.
"Itu adalah by design yang ingin mempertahankan status quo. Yang tidak ingin ada perubahan internal di kejaksaan," tuding Saldi.
Dalam jumpa pers di Kejagung, Kamis (16/9), Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) menolak Jaksa Agung dari kalangan luar. Mereka meminta presiden memilih calon dari kalangan internal, Korps Adhyaksa. Sementara, publik sedang berwacana Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanjo untuk menjadi pimpinan KPK dan Jaksa Agung. Presiden SBY pun menyatakan, Jaksa Agung pengganti Hendarman Supandji tidak harus dari Kejaksaan. Namun akhirnya, PJI menyangkalnya. Kapuspenkum Kejagung Babul Khoir Harahap menegaskan, 8 ribu jaksa hanya berharap Jaksa Agung dari internal. "Bukan menolak, tetapi memohon dari dalam, itu yang dari PJI," kata Babul saat dihubungi detikcom.
(ape/ape)











































