Meski sudah hampir seperempat abad, kenangan terhadap Busyro hingga saat ini masih terekam jelas dalam ingatan Budiman. Kini sang guru merupakan calon pimpinan KPK dan si murid adalah anggota DPR-RI.
"Beliau orangnya baik, tidak pernah mengomel atau menjewer murid," kata Budiman saat menyampaikan kenangannya itu kepada detikcom, Jumat (17/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau tipe seorang intelektual yang saleh dan sabar. Karakternya lebih mirip Pak Bibit Samad Riyanto (Wakil Ketua KPK), orang senior yang bicaranya lembut tapi berprinsip," kenang Budiman.
Dalam mengajar, kata Budiman, Busyro juga selalu menekankan kepada konsep materi pelajaran sebelum lebih jauh memberikan soal-soal praktik. Ia juga terlihat sebagai guru yang sibuk.
"Saya melihat pak Busyro adalah orang yang kekuatannya pada konsepsi. Cocok untuk menyusun strategi pembenahan KPK sebagai institusi yang memelopori budaya anti korupsi," kata dia.
Bambang Widjojanto
Budiman juga punya kenangan dengan calon pimpinan KPK lainnya, Bambang Widjojanto. Selain sesama aktivis prodemokrasi pada era Orde Baru, Bambang adalah pengacara Budiman saat menghadapi pengadilan pada 1996.
Budiman, oleh pemerintah Orba dituduh dengan pasal subversif.
"Saya mengenal dia sebagai seorang pejuang demokrasi dan punya keberanian mengatakan yang benar dan yang salah," kata Budiman.
"Kalo Pak Bambang lebih mirip Pak Chandra (M Hamzah, Wakil Ketua KPK), muda, energik dan berani melakukan terobosan," ujarnya.
Kepada dua sosok yang pernah dikenalnya itu, Budiman menyayangkan jika hanya salah satu saja yang terpilih menjadi pimpinan KPK. Namun, ia berharap yang terbaik dari yang terbaiklah yang akan dipilih Komisi III DPR dalam fit and proper test nantinya.
"Sehingga pemberantasan korupsi bisa jalan terus, tanpa pandang bulu dan pesanan politik," ujarnya.
(lrn/mok)











































