Namun menurut pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Rafli Harun, syarat Jaksa Agung yang terpenting berani jujur dan punya integritas tinggi, bukan dari karier ataupun non karier.
"Syarat Jaksa Agung pertama ya integritas. Itu syarat yang tidak bisa dipungkiri. Mau karir atau bukan, yang penting integrity. Kalau pernah merasa menerima duit dari klien mengatur perkara, ya janganlah. Nambah dosa saja," kata Rafli Hasan dalam diskusi terbatas bersama Forum Wartawan Kejaksaan (Forwaka) di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, Kamis (16/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Andi Ghalib sudah sangat kontroversial. Marzuki Darusman, dia itu politisi, jiwanya bukan jaksa agung. Baharudin Lopa, baik tetapi Tuhan berkehendak lain, cepat sekali dipanggil," ucap Rafli.
Seirama dengan Rafli Hasan, mantan Kapuspenkum Kejagung, Suhandoyo menilai pilihan Jaksa Agung dari internal kejaksaan ataukah dari luar memiliki plus minus. Menurutnya, kelebihan memilih jaksa karier akan cepat memahami masalah dan mendapat dukungan semua unsur kejaksaan. Hanya saja, kekurangan jaksa karier berpotensi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
"Semua memiliki kekurangan dan kelebihan. Kalau dari internal, memiliki kecepatan adaptasi . Cukup cepat menyerap permasalahan. Memiliki kecepatan koordinasi departemen, memperoleh dukungan
internal. Tetapi memiliki negatif juga, KKN sulit dihindari," tukas Suhandoyo.
(Ari/gus)










































