Komisi III Ingin Calon Kapolri Bebas dari Kepentingan Cukong

Komisi III Ingin Calon Kapolri Bebas dari Kepentingan Cukong

- detikNews
Selasa, 14 Sep 2010 18:59 WIB
Komisi III Ingin Calon Kapolri Bebas dari Kepentingan Cukong
Jakarta - Komisi III menginginkan calon Kapolri yang akan diajukan nanti terbebas dari kepentingan pemodal besar atau cukong. Pengajuan satu calon Kapolri bisa jadi alternatif untuk meminimalisir kekhawatiran itu.

"Kita ingin pemilihan ini bebas dari aksi-aksi seperti itu. Karena mereka ini organ vital republik, jadi sudah sepatutnya terbebas dari kepentingan tertentu,"ujar Wakil Ketua Komisi III Tjatur Sapto Edy saat dihubungi wartawan dari Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (14/9/2010).

Menurut Tjatur, secara logis untuk jabatan penting seperti Kapolri, sangat besar kemungkinan para cukong tersebut ikut "nimbrung". Namun dengan sistem pemilihan yang saat ini berjalan, apalagi jika presiden hanya akan memberikan satu nama calon ke DPR, maka akan kecil kemungkinan para cukong itu beraksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya rasa tipis kemungkinan seperti itu," kata Tjatur.

Maka dari itu, Tjatur menilai pengajuan satu calon Kapolri itu bisa menjadi alternatif mencegah aksi-aksi para cukong.

"Tapi walaupun begitu pengajuan satu nama ada plus-minusnya. Plusnya menjaga soliditas di internal Polri dan mengurangi spekulasi yang berkembang seperti adanya cukong dan money poltik yang bermain. Minusnya ada kesan kalau satu calon itu tidak demokratis karena tidak ada pilihan lain, baik satu atau dua saya rasa pengajuan itu sama-sama kontroversi," tambahnya.

Ketika diminati tanggapan mengenai beberapa nama calon Kapolri yang muncul, Tjatur menilai tiga nama yang sering disebut-sebut sangat mewakili sosok kepemimpinan.

"Pak Imam relatif bersih, Pak Nanan bersikap tegas dalam bersikap dan Pak Timur juga memiliki pengalaman dilapangan yang luar biasa. Yang penting sosok kedapan adalah orang yang bisa membersihkan dirinya terlebih dahulu, berani melawan mafia hukum yang melingkari dirinya dan tidak boleh gagap dengan perkembangan zaman dan teknologi, karena kejahatan sekarang semakin canggih," tutupnya

(mpr/ndr)


Berita Terkait