"Mengapa saya prihatin? Karena justu kita harus senantiasa menjaga kerukunan dan hubungan baik di antara umat beragama dan kita mencegah aksi-aksi kekerasan di masyarakat kita," ujar SBY di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (14/9/2010), usai menerima Menko Polhukam, Kapolri dan Sekjen Kementerian Agama.
SBY mengaku, beberapa menit setelah insiden terjadi dia telah mendapat laporan dari Menko Polhukam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun mengingat masalah itu sangat sensitif dan memerlukan perhatian seksama sampai pada tingkat presiden, SBY pun ingin penjelasan lebih utuh. Sehingga nantinya ada penjelasan yang utuh juga kepada masyarakat guna menjaga kerukunan.
SBY menyampaikan dirinya telah mendapat laporan secara komprehensif dari Menko Polhukam, Kapolri, dan Sekjen Kementerian Agama tentang peristiwa dan latar belakang kejadian tersebut. Sesuai yang dilaporkan kepadanya, ada permasalahn yang berkaitan dengan tempat ibadah bagi jemaat HKBP.
"Sebenarnya rumah yang dijadikan kegiatan agama itu oleh warga di kompleks perumahan itu selama 19 tahun telah diberikan toleransi untuk dilakukan kegiatan agama. Karena masyarakat berpedoman bahwa perumahan bukan rumah untuk beribadah," tutur SBY.
Selama 19 tahun, lanjutnya, tidak ada masalah apa-apa. Namun demikian ketika jemaat itu semakin besar, dan kegiatan ibadah makin intens, warga berpendapat sebaiknya dicarikan tempat lain untuk beribadah.
"Sampai titik itu tidak ada masalah apapun, yang diinginkan adalah sebuah solusi. Namun solusi juga tidak selalu mudah didapatkan sehinga pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi masalah itu," imbuh SBY.
Ditambahkan SBY, pada kenyataannya belum ditemukan solusi yang tepat. Meskipun hingga tingkat pusat dengan dipimpin oleh Menko Polhukam sudah dilakukan pertemuan yang lebih terpadu agar didapat solusi yang lebih tepat.
"Sementara solusi yang diinginkan belum ada, ketegangan masih ada. Jemaat dari HKBP memilih untuk beribadah di tempat tertentu hingga akhirnya terjadilah insiden 12 September yang lalu," kata SBY.
(vit/nrl)











































