SBY Prihatin Insiden Penusukan Jemaat HKBP

SBY Prihatin Insiden Penusukan Jemaat HKBP

- detikNews
Selasa, 14 Sep 2010 12:06 WIB
SBY Prihatin Insiden Penusukan Jemaat HKBP
Jakarta - Prihatin. Itulah yang dirasakan Presiden SBY terkait penusukan terhadap anggota majelis dan kekerasan terhadap pendeta HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi, pada 12 September 2010 lalu. Sebab insiden berdarah itu terjadi saat jemaat dalam perjalanan ibadah.

"Mengapa saya prihatin? Karena justu kita harus senantiasa menjaga kerukunan dan hubungan baik di antara umat beragama dan kita mencegah aksi-aksi  kekerasan di masyarakat kita," ujar SBY di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (14/9/2010), usai menerima Menko Polhukam, Kapolri dan Sekjen Kementerian Agama.

SBY mengaku, beberapa menit setelah insiden terjadi dia telah mendapat laporan dari Menko Polhukam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menko Polhukam waktu menyampaikan pada saya belum diketahui motif dari kekerasan atau kejahatan itu. Karena itu yang kita utamakan adalah untuk mencari dan menemukan pelaku kekerasan," imbuh SBY.

Namun mengingat masalah itu sangat sensitif dan memerlukan perhatian seksama sampai pada tingkat presiden, SBY pun ingin penjelasan lebih utuh. Sehingga nantinya ada penjelasan yang utuh juga kepada masyarakat guna menjaga kerukunan.

SBY menyampaikan dirinya telah mendapat laporan secara komprehensif dari Menko Polhukam, Kapolri, dan Sekjen Kementerian Agama tentang peristiwa dan latar belakang kejadian tersebut. Sesuai yang dilaporkan kepadanya, ada permasalahn yang berkaitan dengan tempat ibadah bagi jemaat HKBP.

"Sebenarnya rumah yang dijadikan kegiatan agama itu oleh warga di kompleks perumahan itu selama 19 tahun telah diberikan toleransi untuk dilakukan kegiatan agama. Karena masyarakat berpedoman bahwa perumahan bukan rumah untuk beribadah," tutur SBY.

Selama 19 tahun, lanjutnya, tidak ada masalah apa-apa. Namun demikian ketika jemaat itu semakin besar, dan kegiatan ibadah makin intens, warga berpendapat sebaiknya dicarikan tempat lain untuk beribadah.

"Sampai titik itu tidak ada masalah apapun, yang diinginkan adalah sebuah solusi. Namun solusi juga tidak selalu mudah didapatkan sehinga pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi masalah itu," imbuh SBY.

Ditambahkan SBY, pada kenyataannya belum ditemukan solusi yang tepat. Meskipun hingga tingkat pusat dengan dipimpin oleh Menko Polhukam sudah dilakukan pertemuan yang lebih terpadu agar didapat solusi yang lebih tepat.

"Sementara solusi yang diinginkan belum ada, ketegangan masih ada. Jemaat dari HKBP memilih untuk beribadah di tempat tertentu hingga akhirnya terjadilah insiden 12 September yang lalu," kata SBY.
(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads