Dede (29) misalnya. Pria asal Kuningan, Jawa Barat ini tidak bisa meninggalkan dagangannya saat hari raya Idul Fitri. Ia justru memilih membuka warungnya dan berjualan.
"Belum dapat ongkos cukup mas. Mending di Jakarta dulu, siapa yang jualan nanti," kata Dede saat berbincang dengan detikcom di warungnya, Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (10/9/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan itu, ada pula Adas yang jadi penyapu makam musiman. Adas bahkan rela datang dari Bandung dan meninggalkan keluarganya. Berbekal sapu dan gunting rumput seadanya, ia mencoba mencari rezeki dari para peziarah TPU Jeruk Purut.
"Lumayan, kalau lagi Syawalan begini bisa dapat banyak," ujar Adas.
Bagi Adas, bekerja sampingan sebagai penyapu makam memang pilihan berat. Di pabrik tempatnya bekerja, ia tak mendapat THR.
"Kalau sehari bisa Rp 300 ribu kan lumayan. Meski jauh dari rumah. Tapi kita punya uang buat setelah lebaran," jelasnya.
Lain halnya dengan Dede dan Adas, seorang satpam di salah satu kantor di Kuningan, Deri (24) mengungkapkan, tahun ini ia mendapatkan tugas masuk piket. Lajang asal Sukabumi ini memang tak bisa mudik lebaran karena tugas dari kantornya.
"Sudah resiko pekerjaan. Mau gimana lagi. Tetap harus dijalani kan?" cerita Deri.
Masih banyak kisah mereka yang tak bisa mudik karena sesuatu hal. Mulai dari pekerja kesehatan (puskesmas, RS), polisi, hingga karyawan swasta. Karena alasan kerja dan mencari sesuap nasi, mereka rela berpisah dengan keluarga.
(ape/ndr)











































