"Setelah Shalat Id, kembali masyarakat Indonesia menemukan perayaan ala Indonesia melalui sajian khas Lebaran ketupat sayur dan sambal goreng," kataThird Secretary Indonesian Embassy, Jane Runkat dalam siaran persnya yang diterima detikcom, Jumat (10/9/2010).
Jane bercerita nuansa ibadah yang khusuk dan silaturrahmi yang akrab khas Indonesia tersebut tampak diantara masyarakat Indonesia yang mengikuti Shalat Id di Balai Indonesia, atau yang akrab dikenal dengan nama Gedung Sekolah RI Tokyo (SRIT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelaksanaan salat Id di Balai Indonesia dilakukan dalam dua sesi untuk mengakomodasi jumlah masyarakat yang hadir, maupun yang harus datang dari luar Kota Tokyo. Dua sesi Shalat Id ini nampak dipadati oleh masyarakat Indonesia, seperti para mahasiswa, pelajar dan para pekerja magang, atau kenshuusei. Mereka datang dari Saitama, Chiba, hingga Shizuoka," urai Jane.
Setelah pelaksanaan Shalat Ied, seluruh masyarakat Indonesia diundang untuk hadir di Wisma Duta pada Open House Halal-Bihalal. Acara ini merupakan silaturrahmi yang pertama bagi tuan Rumah Wisma Duta, Duta Besar Muhammad Lutfi dan Ibu Bianca Adinegoro Lutfi. Keduanya baru tiba di Tokyo pada 7 September 2010.
"Halal Bihalal Lebaran ini sekaligus adalah perkenalan Kepala Perwakilan RI Tokyo yang baru tersebut, serta pertanda dimulainya ikatan kekeluargaan dan kerja sama dengan seluruh masyarakat Indonesia," terangnya.
Persiapan acara halal bihalal ini, memang mendapatkan perhatian khusus, demi menghadirkan suasana dan makanan khas Indonesia. Para Ibu Dharma Wanita, bekerja dibantu warga masyarakat.
Lebih dari 2.200 warga masyarakat yang hadir di Wisma Duta pun menunjukkan wajah puas, terutama ketika mencicipi ketupat sayur dan sambal goreng ati. "Saya memang menunggu ketupat. Ini pertama kali Lebaran di Jepang," kata salah satu kenshuusei asal Klaten.
Selain masyarakat Indonesia, juga hadir beberapa undangan yang berasal dari negara lain, termasuk warga Jepang sendiri. "Para tamu tersebut tampak menikmati juga masakan Indonesia, walaupun untuk beberapa orang Jepang, sambal goreng ati dirasakan terlalu pedas," tutup Jane.
(ndr/vit)










































