Awalnya, para tunanetra itu datang mengantre di pintu masuk Sekretariat Negara Jalan Majapahit, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2010), dengan saling berpegangan pundak. Seorang yang memiliki penglihatan lebih baik berjalan paling depan. Dalam satu rombongan terdapat sekitar lima hingga sepuluh tunanetra.
Begitu terpisah dari pemandunya, para tunanetra itu pun berjalan tanpa arah. Mereka menabrak orang ataupun pembatas jalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada pukul 15.20 WIB, terdengar pengumuman panitia open house melalui pengeras suara. "Waktu sudah habis tidak ada lagi open house di Istana. Silakan kembali pulang lewat pintu Monas. Mohon maaf atas ketidanyamanan ini."
Sekitar dua ratus warga masih menunggu untuk masuk. Mereka mendapat info dari televisi bahwa gerbang akan dibuka sampai pukul 17.00 WIB. Ternyata yang terjadi gerbang tidak sepenuhnya dibuka. Banyak warga ingin mengikuti open house karena tahun sebelumnya mereka mendapatkan uang.
Di dalam area Setneg dekat pintu masuk banyak berserakan sandal jepit, sepatu, botol air mineral. Barang-barang tersebut sempat dilempar warga karena tidak puas lantaran sulit masuk ke lingkungan Setneg.
Kertas putih terpampang di gerbang bertuliskan, "Pemberitahuan, sehubungan dengan kegiatan presiden lainnya, untuk acara open house dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hijiriyah Presiden berkenan menerima masyarakat sejumlah 1.250 orang. Pintu Sekretariat Negara akan dibuka jam 14.00 WIB. Demikian untuk menjadi maklum." Di kanan bawah tertulis "Rumah Tangga Kepresidenan."
(vit/ndr)










































