Jurnalis Yogya Gelar Aksi Keprihatinan Bagi Triyono

Penganiayaan Wartawan oleh Dandim

Jurnalis Yogya Gelar Aksi Keprihatinan Bagi Triyono

- detikNews
Rabu, 08 Sep 2010 13:26 WIB
Jurnalis Yogya Gelar Aksi Keprihatinan Bagi Triyono
Yogyakarta - Puluhan wartawan dari berbagai media yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Yogyakarta Anti Kekerasan menggelar aksi keprihatinan atas kasus pemukulan terhadap Triyono wartawan Harian Solopos oleh Dandim 0727 Karanganyar, Letkol Lilik Sutikno. Mereka menuntut agar kasus ini diproses secara hukum dan pelaku dicopot.

Aksi tersebut diawali dari depan pintu masuk gedung DPRD DIY di Jalan Malioboro, Rabu (8/9/2010). Dalam aksi itu massa juga membawa beberapa poster di antaranya bertuliskan "Copot Dandim Karanganyar,Β  Lawan Dengan Tulisan Bukan Kekerasan, Tegakkan Kebebasan Pers".

Setelah menggelar orasi selama lebih kurang 30 menit, massa kemudian berpindah menuju halaman gedung DPRD. Dalam beberapa orasi secara bergantian massa menuntut agar POM TNI AD memeriksa Dandim Karanganyar dan mengusut tuntas serta memberikan hukuman kepada yang bersangkutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adi Prabowo salah satu perwakilan wartawan menyatakan pihaknya mengecam aksi kekerasan yang dilakukan aparat TNI AD, Dandim Karanganyar Lilik Sutikno terhadap wartawan Solopos. Aksi kekerasan tersebut menunjukkan gagalnya reformasi di tubuh TNI.

Menurut dia, kerja wartawan sudah dilindungi oleh undang-undang. Apabila ada pihak yang tidak puas dengan pemberitaan seharusnya menggunakan hak jawab, bukan main pukul dan main ancam seperti yang dialami Triyono.

"Gaya seperti itu adalah gaya tentara zaman orde baru. Bukan lagi zaman main pukul seperti itu," kecam Adi Prabowo.

Di tempat itu massa kemudian mengadukan kasus kekerasan tersebut kepada patung Panglima Besar Jenderal Sudirman. Patung Jenderal Sudirman mengenakan jubah dan tongkat itu sebagai simbol seorang TNI yang humanis, anti kekerasan namun punya nasionalisme tinggi.

Di depan patung Sudirman, massa kemudian menempelkan beberapa poster tuntutan. Aksi diakhiri dengan pembacaan puisi dan tuntutan.

(bgs/mad)



Berita Terkait