"Perundingan masih sangat diplomatis, terlalu soft," kata Pramono di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/9/2010).
Ketidaktegasan itu, kata Pramono, dilihat tidak adanya permintaan maaf secara terbuka dari pemerintah Malaysia terhadap publik terkait insiden perbatasan 13 Agustus lalu.
"Belum ada diplomasi bahwa bangsa ini benar-benar punya dignity (harga diri) dan Malaysia bisa menghormati bangsa kita," kata politisi PDI Perjuangan ini.
Menurut Pram, sapaan akrabnya, ke depan yang diperlukan adalah implementasi hasil perundingan, seperti masalah perbatasan kedua negara yang belum tuntas.
"Masalahnya bukan perundingan tertulis atau tidak tertulis, tapi implementasi," tegas Pram.
(lrn/mok)











































