Demikian siaran pers Asia-Europe Foundation (ASEF), yayasan pendiri dan inisiator ASEMUS, yang diterima detikcom hari ini, Selasa (7/9/2010).
Pada konferensi di Paris (8-10/9/2010) itu para delegasi juga akan melakukan proyek pemetaan yang ambisius dengan memfokuskan pada penelitian dan berbagi pengetahuan tentang warisan kebudayaan, sumber daya dan keahlian, serta proyek-proyek dan kegiatan di Asia dan Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu Duta Besar Delia Domingo-Albert (dubes Philippina di Jerman) dan mantan Sekretaris Kemlu Prancis Jacques Giès, yang kini menjabat Presiden Musée Guimet, juga akan tampil sebagai pembicara.
ASEMUS didirikan di 2000 oleh ASEF, sebuah organisasi internasional nirlaba berbasis di Singapura hasil bentukan negara-negara Asia-Europe Meeting (ASEM).
ASEMUS ini merupakan sebuah platform untuk dialog informal dan pertukaran antar-museum, yang dibaktikan untuk warisan kebudayaan di negara-negara ASEM. Dan ASEF selaku pendiri akan terus mendukung ASEM secara aktif.
"Dalam melaksanakan mandat ASEF yang melibatkan masyarakat sipil untuk mempromosikan saling pengertian antara Asia dan Eropa, kami selalu menempatkan penekanan besar pada jaringan lintas-budaya seperti ASEMUS," ujar Executive Director ASEF Duta Besar Dominique Girard.
Lanjut Girard, dukungan terus-menerus pada jaringan museum yang unik tersebut juga mencerminkan keterlibatan panjang ASEF di bidang warisan kebudayaan sebagai motor penggerak pembangunan sosial dan ekonomi.
Sebelumnya kerjasama jaringan di masa lalu antara lain pameran perjalanan "Self and Others: Portraits from Asia and Europe” (dikunjungi oleh 60.000 orang) dan “Virtual Collection of Masterpieces”, sebuah koleksi online lebih dari 1,600 benda seni dari 83 museum.
Dengan pembesaran ASEM meliputi Rusia, Australia dan Selandia Baru pada Oktober 2010, jaringan tersebut kini akan memperluas jangkauan mencapai total 46 negara di Asia dan Eropa.
(es/es)











































