"Polri seharusnya lebih memprioritaskan mendorong anggaran yang lebih prioritas misalnya menyangkut peralatan. Terus juga kesejahteraan. Kalau itu (sepakbola) saya kira sangat tidak tepat," kata peneliti Peneliti Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center (IBC), Roy Salam, kepada detikcom, Selasa (7/9/2010).
Menurut Roy, dua pos itu justru selama ini yang kerap dikeluhkan oleh Polri. Dengan pembentukan tim sepakbola, maka segala keluhan yang disampaikan terkait minimnya anggaran terasa aneh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, polisi juga dinilai sebaiknya lebih fokus mengurusi keamanan publik. Biarkan urusan sepakbola diatur oleh lembaga yang sudah berpengalaman.
Terlebih, polisi dan TNI selama ini dikenal sangat tertutup soal anggaran. "Urusan polisi kan bagaimana mereka memberikan kenyamanan pada publik. Apalagi kalau kita melihat dari laporan audit BPK, institusi pertahanan di TNI dan kepolisian masih sangat tertutup. Sangat sulit mengawasi proses tender di mereka," jelasnya.
Seperti diketahui, Mabes Polri telah membentuk Persatuan Sepakbola Bhayangkara (PS Bhayangkara) untuk mencari bibit pemain bola handal. Ide pembentukan tim sepakbola Polri datang langsung dari Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD).
Para pemain nantinya akan mendapat pelatihan khusus dari Mabes Polri dan pelatih luar negeri. Selain itu, mereka juga diprioritaskan untuk menjadi anggota Polri.
Lalu dana operasionalnya dari mana? Menurut Kadiv Humas Polri Brigjen Iskandar Hasan, dana akan diajukan ke pos anggaran pendidikan Polri.
(mad/mei)










































