Demikian salah satu poin pidato dari Presiden SBY saat berbuka puasa bersama partai koalisi. Acara digelar di kediaman pribadi SBY di Cikeas, Kabupaten Bogor, Minggu (5/9/2010).
"Dengan pikiran jernih, mari kita menjawab pertanyaan yang muncul itu. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui aksi reaksi keseharian yang mewarnai wacana itu," kata SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Caranya adalah dengan mengadopsi lantas meneruskan bagian positif dan membuang bagian negatif sembari memperbaiki ekses buruk yang terjadi. Hingga akhirnya kelak akan terbentuk sistem politik dan tata negara yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
"Mari berpikir menjemput ke depan, 10-20 tahun lagi bagaimana sistem politik nasional yang hendak kita bangun. Jelas itu bukan era kita semua yang hadir di sini, tapi mari buka ruang publik sebesar-besarnya," sambung SBY.
Polemik yang terjadi dalam ruang publik itu memang merupakan bagian dari demokrasi. Meski demikian tidak tepat pula bila polemik terus dibiarkan berlangsung tanpa keputusan apa yang terbaik dan final.
"Tidak bisa kita dari hari ke hari hanya terus berputar-putas dalam satu diskursus tanpa temukan sistem politik bagaimana yang kita harapkan dalam agenda politik dalam negeri," tegas SBY.
(lh/irw)










































