Saat ditemui di rumah duka, Jl Surabaya No 13, Menteng, Jakarta, Rosihan tampak tegar. Dia menceritakan peristiwa tadi pagi, menjelang wafat almarhumah.
Menurut Rosihan, Minggu (5/9/2010) dia sedang menemani istrinya sarapan pagi, karena hanya Rosihan yang berpuasa. Rosihan lalu pergi ke kamar mandi sebentar dan saat itulah sang istri jatuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak tertua Rosihan melihat ibunya tidak seperti jatuh. Gerakannya perlahan-lahan, tidak seperti orang jatuh. Keluarga menyadari ada yang salah karena Zuraida telungkup di lantai.
"Selama ini ibu tidak ada keluhan sakit jantung. Yang selama ini dikeluhkan hanya osteporosis," lanjut Rosihan.
Rosihan amat berduka kehilangan istrinya. Walau mencoba tegar, matanya tampak berkaca-kaca saat menceritakan almarhumah.
"Terus terang berat. Karena, selama 63 tahun saya didampingi beliau. Saya jadi wartawan, dan ibu menjadi penyiar RRI," kata Rosihan yang memakai baju putih.
Sementara hingga pukul 13.30 WIB para pelayat terus berdatangan dan menyampaikan bela sungkawa. Rosihan tampak sesekali terisak.
(ahy/fay)











































