Seperti di Kecamatan Payung, Naman Teran dan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Tiga kecamatan ini berada di radius antara 4 sampai 6 kilometer dari Gunung Sinabung. Ratusan warga tetap tinggal di desanya masing- masing dengan mendirikan posko.
Salah seorang warga Desa Tapak Kuda, Kecamatan Tiganderket, Hartakita Surbakti (51) mengatakan, warga sempat panik karena merasakan getaran kuat saat warga masih terlelap Jumat subuh sekitar pukul 04.38 WIB.
"Warga makin takut karena cuaca gerimis dan langit ditutupi awan tebal. Banyak yang langsung pergi dari rumah karena takut. Tapi tidak sedikit yang tetap bertahan. Warga letih terus-menerus tak mendapat kepastian soal Gunung
Sinabung," kata Surbakti.
Hal senada juga disebutkan Kemta Karokaro (34), warga Desa Berastagi, Kecamatan Simpang Empat.
Β
"Saya sudah membawa keluarga pulang ke rumah dari pengungsian. Tapi karena ada letusan tadi pagi, saya terpaksa membawa kembali keluarga ke pengungsian. Saya pulang lagi ke rumah mengurus ternak," ucap Karokaro.
Sementara itu Kepala Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BPVMBG), Surono mengatakan, Gunung Sinabung masih dalam status awas. Untuk itu, warga di zona berbahaya diimbau untuk tetap di pengungsian menunggu aktivitas Gunung Sinabung normal kembali.
"Kita terus mengamati aktivitas Gunung Sinabung tiap saat. Jika ada perkembangan mengkhawatirkan, segera akan dikabarkan agar warga bisa melakukan antisipasi dini," tegas Surono.
Sepanjang Jumat, Gunung Sinabung tercatat dua kali meletus. Letusan pertama terjadi Jumat subuh sekitar pukul 04.38 WIB dan letusan kedua tercatat pada 17.59 WIB. Akibat letusan ini, debu vulkanik terbang hingga melintasi Berastagi menuju Kabupaten Deliserdang.
(rul/rdf)











































