Uang, yang menurut Arafat senilai Rp 1 miliar itu, merupakan titipan Gayus Tambunan. Pemberian itu dimaksudkan agar Gayus tidak ditahan dan uangnya Rp 28 miliar yang diblokir segera dibuka.
"Kombes Pol Pambudi Pamungkas dapat Rp 1 miliar. US$ 50.000 katanya kurang, minta lagi US$ 50.000. Saya lihat sendiri di depan mata," kata Kompol Arafat Enanie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Arafat mengaku telah meminta Gayus Tambunan ditahan. Arafat lalu membuat surat kepada pimpinan langsung, Kombes Pambudi Pamungkas, supaya disetujui Direktur II Ekonomi Khusus Brigjen Edmond Ilyas.
Tetapi, kata Arafat, Pambudi tidak pernah menandatangani sama sekali sehingga permintaan penahanan tidak pernah terealisasi.
"Penahanan sudah saya usulkan ke Direktur melalui ke Kanit Pambudi Pamungkas. Tetapi tidak diparaf jadi tidak bisa diteruskan ke direktur," imbuh Arafat.
Pun demikian, uang Rp 1 miliar itu tidak pernah mengalir ke bawahan. Sebab, menurut Arafat, Pambudi terkenal pelit.
"Dia sudah terkenal, kalau dia sudah terima uang, tidak pernah turun ke bawah," tukas Arafat yang rencananya akan menjalani tuntutan Senin pekan depan.
Saat ini, Pambudi masih belum terjerat hukum. Dia tidak ikut ditangkap kejaksaan dalam jejaring kasus mafia pajak Gayus Tambunan. Saat memberi kesaksian untuk Arafat, dia sempat dimaki-maki oleh kakak Kompol Arafat Enanie. Dia menilai Pambudi sebagai atasan yang tidak jujur dan tidak bertanggungjawab.
(Ari/lrn)











































