Jaringan Pengobral Cinta Sering Gunakan Isu Teroris untuk Jerat Korbannya

Jaringan Pengobral Cinta Sering Gunakan Isu Teroris untuk Jerat Korbannya

- detikNews
Rabu, 01 Sep 2010 14:39 WIB
Jakarta - Jaringan penipu pengobral cinta Nigerian Sweetheart Scam boleh dibilang sangat update. Para penipu itu menggunakan perkembangan terkini untuk memperdaya korban-korbannya. Salah satunya dengan menggunakan isu terorisme yang sedang 'naik daun' di Indonesia.

Menurut sejumlah korban, modus penipu antara lain berpura-pura mengirimi korban parsel berisi barang-barang mewah dan juga uang yang jumlahnya sangat banyak. Karena uang yang sangat banyak ini, korban diwajibkan memiliki sertifikat bukan teroris.

"Saya harus transfer uang karena saya nggak punya sertifikat itu. Kalau tidak, nanti saya bisa dituduh sebagai teroris," kata Jenice, nama samaran, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (1/9/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Korban lainnya Jenifer juga 'diwajibkan' mentransfer sejumlah uang ke seorang pria yang mengaku staf PBB. Jika tidak, Jenifer ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Jenifer disebut menerima paket berisi uang banyak dari pria bule asal Amerika Serikat yang mengaku tentara di Irak.

"Karena takut, Jenifer mentransfer uang itu. Uangnya nggak sedikit, lebih dari Rp 300 juta," kata Judha, rekan dekat Jenifer saat berbincang dengan detikcom.

Jaringan ini diprediksi telah beroperasi langsung di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari rekening bank yang diberikan merupakan bank Indonesia. Indikasi lainnya, para penipu itu menggunakan nomor seluler Indonesia.

Awalnya, para penipu itu mendekati para perempuan dengan kata-kata luar biasa manis. Dengan modal itu, para pria yang ternyata kebanyakan orang Nigeria itu memeras uang korbannya.

Namun belakangan, modus para penipu itu berubah. Mereka tidak hanya memperdaya para wanita dengan kata-kata romantis dan janji-janji akan menikahi. Para penipu itu sudah mulai memaksa, mengancam, dan mengintimidasi, seperti yang terjadi pada Jenifer. Jenifer saat ini lemas tak berdaya setelah tekor Rp 700 juta.

Hati-hatilah wanita Indonesia!

(ken/nrl)


Berita Terkait