"Saya sudah cukup lama di pemerintahan, 20-an tahun. Tapi akhir-akhir ini saya mendeteksi satu hal yang berbeda dengan masa-masa lampau. Kalau bisa saya katakan dalam satu kalimat, makin meningkatnya ketidakpastian hidup di dunia ini," kata Boediono saat menyampaikan sambutan di acara buka bersama para ulama di Kediaman Dinas Wapres, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (31/8/2010).
Menurut Wapres, bencana alam makin sering terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bencana alam itu sebagian disebabkan oleh adanya perubahan iklim.Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wapres melanjutkan, di bidang ekonomi yang menjadi perhatiannya, ketidakpastian itu juga luar biasa terjadi. Saat ini, uang keluar masuk dalam waktu singkat dan berpotensi menimbulkan kekacauan ekonomi.
"Di bidang politik dan keamanan saya kira kita bisa melihat beberapa titik-titik ledakan itu bisa terjadi. Di kawasan kita juga demikian. Di laut, di perbatasan kita. Ini menunjukkan bahwa ketidakpastian ini suatu fakta yang harus dihadapi oleh kita di semua negara," ungkap Boediono.
Bagaimana menghadapi keadaan dunia yang tidak pasti itu? Guru besar UGM ini mengatakan, kuncinya adalah persatuan dan kebersamaan seluruh elemen bangsa. Amat disayangkan bila energi yang dipunyai bangsa Indonesia saat ini dipakai untuk ribut sendiri.
"Seperti juga zaman revolusi tantangannya begitu besar dari luar, itu menyatukan kita untuk menghadapi. Insya Allah dalam suasana seperti ini kita sadar bahwa ada ketidakpastian yang besar yan bisa melanda kita sewaktu-waktu," cetus Boediono.
Selanjutnya, Boediono mengajak para ulama untuk mengelola bangsa Indonesia di tengah mengarungi perjalanan penuh tantangan ini. Ulama mempunyai peranan yang strategi sebagai jembatan antara umat dan pemerintah.
"Saya sebagai pemerintah berterimakasih atas kerja samanya. Ke depan kerjasama untuk mengelola bangsa kita yang besar ini menghadapi ketidak pastian, kuncinya adalah kedekatan kita masing-masing. Jangan kita buang energi kita untuk ribut di antara kita sendiri. Kalau ada hal yang bisa kita kerjakan dengan kebenaran hati kejernihan dan musyawarah, tidak perlu kekerasan, tidak perlu isu-isu yang ke sana-sini," tutupnya.
(irw/anw)











































