"(Sistem radar) sempat mati total, untungnya kita masih bisa menangani. Kita back up dengan sistem non-radar. Jadi butuh waktu lebih lama. Sehingga pesawat yang mau mendarat harus berputar-putar dulu menunggu pendaratan," jelas Ketua Indonesian Air Traffic Controllers Association (IATCA), Imam Waski, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (29/8/2010).
Menurut dia, saat ini teknisi masih mencari penyebab matinya sistem radar tersebut. "Kita masih mencari informasi kenapa sampai sistem radarnya mati total," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya dengan sistem radar, jarak antara satu pesawat dan pesawat lain 10 mile atau 3-4 menit. Kalau dengan sistem non-radar butuh waktu 10 menit. Untuk menghindari tabrakan," jelasnya.
Seorang pembaca detikcom, Icha, menceritakan pengalamannya berputar-putar di udara akibat kerusakan sistem radar tersebut.
"Menyeramkan kejadian siang ini. Aku melakukan perjalanan dari Makassar ke Jakarta memakai GA 613, cuaca sangat baik dan clear. Tetapi 30 menit sebelum mendarat pukul 09.30 WIB, pilot mengumumkan bahwa akan mengalami keterlambatan atau delay selama 25 menit karena sistem radar di Bandara Soekarno-Hatta mati," tulisnya lewat surat elektronik.
"Finally kami semua total berputar-putar di udara selama 1 jam. Semoga kejadian kaya gini tidak terulang karena menyangkut banyak orang dan bandara kan
sarana sangat vital," lanjut Icha. (ayu/nrl)











































