Pengungsian berlangsung secara sporadis. Sebagian warga menginap di pendopo rumah dinas Bupati Karo di Kabanjahe, sebagian di gedung-gedung pertemuan adat atau jambur di Brastagi, sebagian lagi menginap di rumah saudaranya masing-masing.
Di Jambur Taras yang berada di Jl Jamin Ginting, Brastagi, setidaknya 300 pengungsi tidur di sana. Udara yang dingin, sementara jambur dalam keadaan terbuka, tanpa dinding, membuat sebagian pengungsi kesulitan tidur.
"Kami masih ketakutan, waktu meletus itu, batu-batu beterbangan kemana mana. Takut terkena, makanya cepat-cepat mengungsi," kata Sitepu (56), warga Desa Sukanalu, Kecamatan, Naman Teran yang mengungsi bersama empat orang anggota keluarganya.
Sitepu menyatakan, masih belum tahu apa yang harus dilakukan karena adanya bencana ini. Dia berharap pemerintah segera melakukan langkah-langkah untuk membantu para penduduk yang sedang kesusahan ini. (rul/irw)











































