Kisah Isu Plagiarisme Sekum PP Muhammadiyah

Kisah Isu Plagiarisme Sekum PP Muhammadiyah

- detikNews
Kamis, 26 Agu 2010 08:41 WIB
Kisah Isu Plagiarisme Sekum PP Muhammadiyah
Jakarta - Isu plagiarisme di kalangan cendekiawan kembali muncul. Kali ini isu kejahatan terhadap intelektualitas tersebut ditujukan kepada Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Agung Danarto. Agung dituding menjiplak tulisan rekannya sendiri, Robby Abror, yang berjudul 'Puasa Ramadan dan Makna Penting Kejujuran'.

Tulisan Agung yang diduga hasil dari menjiplak tersebut dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) di halaman 1 pada tanggal 19 Agustus 2010. Karena merasa artikel yang ditulis Agung adalah miliknya, Robby kemudian menulis surat pembaca ke Kedaulatan Rakyat (KR), yang intinya meminta agar Agung meminta maaf atas plagiarisme itu.

Namun, koran yang berbasis di Yogyakarta yang sudah mencium kejadian tidak beres, langsung menghubungi Robby, untuk menawarkan penyelesaian secara kekeluargaan. "Jadi intinya sejak dimuat KR saya langsung kirim surat pembaca ke KR," kata Robby saat dihubungi detikcom, Kamis (26/8/2010) pukul 07.30 WIB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Robby adalah dosen Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Meski tak aktif di kepengurusan Muhammadiyah, dia sering mengisi pelatihan-pelatihan yang digelar ormas Islam terbesar kedua itu.

Akhirnya hari Sabtu (20/8/2010), Agung Danarto menemui Robby Abror. Dalam pertemuan itu, Agung meminta maaf dan mengaku mendapatkan artikel itu dari internet tanpa ada nama penulisnya. Penyelesaian yang ditawarkan Kedaulatan Rakyat: Suara Pembaca Robby Abror akan dimuat dan kemudian akan disusul dengan surat pembaca dari Agung Danarto yang berisikan permintaan maaf.

Robby menuturkan, KR telah memuat surat pembaca tentang protes Robby soal tulisannya yang dianggap dijiplak oleh Agung pada Selasa (24/8/2010). Surat pembaca itu berjudul:

Plagiasi oleh Dr H Agung Danarto MAg

SAUDARA  Agung Danarto telah melakukan plagiasi total, seratus persen, dalam tulisannya “Puasa Ramadan” di harian ini di rubrik “Hikmah Ramadan”  (Kamis, 19 Agustus 2010). Artikel yang dijiplak adalah tulisan saya dua tahun yang lalu berjudul “Puasa Ramadan dan Makna Penting Kejujuran” yang dimuat di majalah Suara Muhammadiyah No 17 TH KE-92/1-15 September 2007 M  dalam rubrik “Wawasan Islam” halaman 30-31. Sebagai teman sejawat, saya sangat kecewa dengan kejadian ini dan meminta saudara Agung Danarto untuk mengakui plagiasi tersebut, meminta maaf melalui harian ini serta mencabut tulisan itu. Semoga hal ini menjadi pelajaran moral bagi kita semua dan mengamalkan makna kejujuran dengan sungguh-sungguh.


Hari ini, surat permohonan Agung juga telah dimuat oleh KR. "Intinya beliau (Agung) menganggap ini separti ceramah atau khutbah karena intinya ingin memberi sesuatu yang baik," ujar Robby.

Bunyi lengkap tanggapan Agung Danarto sbb:

Tanggapan Agung Danarto: Tentang Hikmah Ramadan

KETIKA Redaksi KR meminta untuk menulis Hikmah Ramadan, yang terbayang dalam benak saya adalah suatu majlis taklim. Dalam majlis taklim atau pengajian, entah bentuknya ceramah jelang buka puasa, ceramah tarawih, ceramah bakda subuh atau bahkan khotbah Jumat dalam bulan Ramadan, yang hadir menginginkan mendapatkan pencerahan dari amaliah-amaliah yang mereka lakukan berkaitan dengan roh keagamaan.

Dalam majlis taklim seperti itu merupakan suatu kewajaran ketika sang ustadz menjelaskan pemahaman ayat Alquran tanpa menyampaikan siapa mufassirnya menyampaikan kata hikmah tanpa menyebut siapa yang pertama kali mengatakannya. Bahkan dalam khotbah Jumat, suatu hal yang biasa juga ketika sang khatib membaca naskah khotbah Jumat yang diambil dari kumpulan khotbah Jumat tanpa menyebut siapa pengarangnya.

Orang yang hadir dalam majlis pengajian menginginkan sentuhan-sentuhan rohaniah dengan kekuatan kata-kata. Dalam benak mereka, kata hikmah undzur maa qola wala tandzur man qola (lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan) menjadi pintu pembuka bagi derasnya nilai-nilai kebijakan masuk dalam dirinya.

Dalam konteks seperti itulah saya mencari bahan dari kumpulan file. Saya menemukan satu tulisan yang memiliki kekuatan kata-kata yang bisa banyak memberikan inspirasi dan pencerahan. Tugas mubaligh adalah menyosialisasikan kebajikan kepada masyarakat. Itulah yang saya lakukan. Ketika menyampaikan ke KR, saya tidak tahu siapa penulisnya. Itulah kelalaian saya.

Kalau Mas Robby H Abror merasa memiliki tulisan itu, mungkin ia benar karena memang itu bukan tulisan orisinal saya. Akan tetapi dari segi isi dan substansi tulisan, sepenuhnya saya setuju. Kepada semua pihak, pemilik tulisan, redaktur dan para pembaca KR saya mohon maaf bila yang termuat tersebut melanggar hak dan menimbulkan ketidaknyamanan anda. Wa ilallahi nastaghfir. Astaghfirullahal'adzim.


(anw/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads