Padahal rekaman GPS yang menunjukan posisi kapal tersebut sebenarnya bisa menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk berdiplomasi dengan Malaysia.
"Kami mengakui bahwa lemahnya baterai GPS yang membuat alat itu tidak aktif menjadi kelemahan Indonesia untuk berdiplomasi," ujar Dirjen Pengwasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso dalam rapat dengan DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (24/8/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat itu petugas tidak membawa baterai cadangan," sesal Aji.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin pun menyayangkan hal ini. Menurutnya tanpa rekaman perjalanan di memori GPS, akan sulit bagi Indonesia untuk beradu argumen dengan Malaysia. Namun dia menjelaskan saat ditangkap, kapal patroli DKP sudah menjorok ke perairan Indonesia.
"Tapi yang jelas saat petugas kepolisian Malaysia melakukan penangkapan, itu 30 menit jaraknya dari TKP (menjorok ke Indonesia)," ungkapnya.
(rdf/nwk)










































